Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Wadaw...ini blog udah lama banget gak gue buka. Pantesan banyak sarang laba-labanya. Mirip seperti tangan jomblomu yang sudah lama gak digenggam :(
Maaf seribu maaf, setahun belakangan ini gue sibuk banget sampai gak sempet nulis blog. Sibuk apa sih? Sibuk mikirin doi sambil jalan-jalan dan lari dari kenyataan. Dari pulang kampung ke Jawa Timur, sampai cuma sekedar ke Bogor sehari semalam. Semuanya semakin mudah semenjak gue pakai aplikasi Traveloka. Beli tiket kereta, dulu mah boro-boro online, ngantri dari pagi di Jatinegara juga belom tentu dapet. Sekarang? Cepat bray tinggal liat jadwal di Traveloka aja. Booking hotel di hari-H juga makin mudah. Kita jadi tau hotel tujuan kita udah penuh atau belom dan jenis kamar apa aja yang tersedia hari itu. Tinggal liat di Traveloka aja terus transfer deh pakai E-Banking atau ke ATM terdekat. Ntaps sekali ini Traveloka.
Okeeee. Kembali ke cerita tentang perjalanan gue sebagai penyintas dan terbantukan oleh adanya Traveloka. Jadi, baru-baru ini gue ke Bandung karena teman kuliah nikahan. Yaelah buru-buru beudh lu yak, bikin gue makin tertekan aja heuheu. Nah, ceritanya pas berangkat ke sana pagi-pagi jam 7 dari Jakarta (harusnya sih jam 6 tapi ya rencana tinggal jadi kenangan), Tol Cikampek udah maceeeeeeet baaaaaaangedh. Alhasil, gue dan tiga teman gue memutuskan untuk lewat jalan biasa aja. Lewat jalur Planet Bekasi Kota-Tambun-Cikarang Barat-Meikarta (jadi pengen pindah wekekekeke) dan masuk lewat Cibatu. Semua demi menghindari Gerbang Tol Cikarang Utama yang semakin laknat aja dari hari ke hari, apalagi setelah ada proyek Cikampek II. Untung aja gue tiap hari di Sentul, bukan Bekesyong :(
Eh iya entry ini bukan ceritain soal perjalanan ke Bandung. Maksudnya, perjalanan ke Bandung kemarin tuh mengingatkan gue akan salah satu pengalaman ter-cihuy sepanjang hidup gue. Pengalaman apatuuuuuh? Ih kepo deh. Gak jelas deh. Ceburin nih ke got depan rumah :(
Jadi, macet-macetan ke Bandung kemarin telah mengangkat kembali memori kelam perjalanan luar biasa yang gue dan keluarga gue lakukan tahun 2016 lalu. Perjalanan setengah horor tersebut terjadi sekitar 2 hari sebelum Idul Fitri. Perjalanan Jakarta-Semarang terlama sepanjang hidup gue. Perjalanan paling melelahkan karena harus duduk di mobil sekelas sedan sport selama kurang lebih 12 jam. Pengalaman perjalanan terbaique. Perjalanan menembus Brebes Exit 2016 (jeng jeng jeng jeng).
Semacam narasi pembuka di novel-novel, "saya masih ingat dengan jelas pertama kali bertemu dengannya..." Lah alig. Maaf, maaf. Efek belum makan dari lahir :(
Oke, jadi gini ceritanya. Tahun 2016 lalu, beberapa hari menjelang Idul Fitri, tepatnya tanggal 3 Juli 2016, tiba-tiba gue sekeluarga pergi ke Semarang. Ngapain? Perkara adik gue yang baru diterima di salah satu kampus negeri di Semarang, jadinya nyokap gue yang memang lagi kebetulan pulang ke Jakarta (efek lagi dinas di luar kota), pengen sekalian bantu nyariin kostan buat adikku yang dulu pernah lucu dan gampang dinangisin tapi sekarang udah ngeselin dan gue yang dibuat nangis :(
Nah bayangin deh. H-3 Idul Fitri dan pergi searah sama orang-orang yang mau mudik...sangat berfaedah. Ditambah ada isu soal macet di pintu tol Brebes. Semakin berfaedah lah perjalanan kali ini. Nyokap sih bilang dengan santai, "kalau macet banget, ya kita puter balik aja." Wow, menenangkan sekali, Mamah :) Jadi lah kita cao tuh abis Maghrib. Eh abis Maghrib apa Isya ya? Lupak. Intinya setelah matahari di pelem teletubbies tenggelam sih.
Cus lah kita ke Semarang. Agak aneh sih jalan ke arah timur tapi gak sekalian mudik ke kampung Ayah atau Ibu, tapi yang mau gimana lagi, nasib ya nasib. Awalnya gue heran kok Cikampek sepi banget. Seriusan sepi dan ora macet sama sekali. Wih sepertinya isu macet hanyalah kebohongan publik belaka.....hingga kita hampir mencapai Brebes.
Kalau kata Tsubasa, "pertandingan baru saja akan dimulai." Nah setelah intermezzo dan narasi panjang di atas, barulah gue jabarin inti cerita dari entry kali ini. Nyesel kan lo baca blog gue? hahaha
Jadi, ujung-ujungnya kita kejebak macet juga nih. Awalnya sih maju dikit-dikit per 10-20 menit. Eh terus kan gue tidur ya. Sekitar 2 jam kemudian, gue bangun dan emeyjing sekali saudara-saudara! Mobilnya gak bergerak. Berhenti di tempat yang sama. Ahay sekali! Sepertinya ada konspirasi kemakmuran di tol ini :(
Kepanikan mulai melanda keluarga gue. Bokap mulai nyetel radio untuk mencari informasi seputar kemacetan ini (padahal mah udah tau kalau macetnya pasti di pintu keluar tol). Kakak gue yang lagi dinas nyetir udah mulai keluar mobil sembari ngobrol-ngobrol sama orang-orang sekitar. Nyokap dan adik gue juga sibuk sendiri. Gue? BOBOK :)
Sungguh, tidur dengan kaki ditekuk itu sangat tidak nyaman. Bangun-bangun rasanya pegel banget dan langsung disuruh sahur. Saya mencoba setrong lah menghadapi keadaan yang tidak seberapa ini. Masih lebih berat perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita :(
Akhirnya, pagi pun tiba. Matahari bersinar cerah seolah tersenyum tenang. Walau panas menyengat, kami tetap gembira. Lah jadi lagu Petualangan Sherina. Oke, iya, jadi, udah pagi nih ceritanya. Gue sok asik aja jalan kaki ke arah pintu tol. Kepo euy ada apaan sih di sana.
Nah, kelakuan gue ini ternyata menjadi berkah tersendiri. Menjelang pintu keluar, gue liat kalau ternyata jalur ke pintu tol setelah Brexit sangaaaaaaat kosong melompong atau kopong. Lah girang dah gue. Langsung gue laporan ke Bapake. Tanpa pikir panjang akhirnya kita memutuskan untuk tidak keluar di Brexit, namun ke pintu tol berikutnya. Capek bray 8 jam di tol doang :(
Berbekal info yang sedikit tersebut dan dengan sejuta harapan kalau pintu tol berikutnya gak semacet Brexit, kita pun menuju ke sana. Hasilnya, alhamdulillah wa syukurillah, bersyukur pada-Mu ya Allah. Lancar jaya bray sampai ujung.
Setelah diskusi mau pulang ke Jakarta atau lanjut Semarang, akhirnya kita lanjut ke Semarang. Nah, tapi masih ada masalah nih. BENSIN SEKARAT! Cari pom bensin, eh ngantri panjang. Ya mau gimana lagi. Lanjut lah ngantri, daripada mobilnya jalan pakai air kelapa alias dorong :(
Kakak gue pun langsung tancap gas dan akhirnya...oh akhirnya kita sampai juga di Semarang....jam 7 malam. Ucedh dah Jakarta-Semarang 24 jam hahaha syedih. Nah, kemudian muncullah masalah baru. Kita tuh belum tau mau bermalam di mana dan situasinya kita sudah di Simpang Lima Semarang. Wew sekali.
Di saat kritis, lapar, belum mandi, lelah, bingung, gue inget kalau di hape ada aplikasi Traveloka. Beberapa waktu yang lalu, gue dan bapak dan kakak dan adik gue pernah ke Dieng terus lanjut Yogya kan tapi ujung-ujungnya ke Solo karena di Yogya udah gak ada hotel yang tersedia. Nah, di Solo, gue pakai Traveloka buat booking hotel yang harganya pas di kantong. Untungnya, masih ada hotel yang agak murah, namanya Red Planet. Jadilah, waktu itu kita nginep semalam di sana.
Balik ke situasi di Semarang. Akhirnya gue buka Traveloka lagi kan. Scrolling, scrolling hotel yang sekiranya enak untuk dibuat bermalam sekeluarga. Nah, masalahnya, kali ini ada nyokap, jadinya gak bisa pesan di hotel yang seadanya. Minimal harus 2 kamar katanya. Jadi, via Traveloka, gue cari yang range harganya cocok dan berbintang yang gak kecil-kecil amat, serta lokasinya di sekitar Simpang Lima. Setelah berdiskusi, maka pilihan dijatuhkan ke Louis Kienne Hotel di Simpang Lima. Enaknya pakai Traveloka, kita bisa milih tipe kamarnya. Dikarenakan kita juga buru-buru dan paginya harus langsung ke tempat calon kostan adik gue, maka kita pilih kamar yang gak pakai breakfast dan itu semua bisa dilihat di Traveloka. Apalagi harga yang tertera sudah final, jadi gak pake biaya tambahan apalah yang ribet-ribet gitu. Langsung lah gue transfer untuk melakukan pembayaran via mobile banking.
Kita pun sampai di Louis Kienne. Langsung ke front desk dan melakukan check-in yang sangat mudah. Cuma perlu nunjukin bukti booking dan pembayaran ke mbak-mbak hotelnya. VOILA! Kita berlima pun bisa mandi dan bobok. Senangnya hatiku, turun panas demamku. Bener-bener deh Traveloka membantu gue dan keluarga gue keluar dari kebingungan mencari tempat bermalam. Kerennya, gak cuma sekali, tapi DUA KALI. Bisa aja dua kali itu gue tidur di pom bensin atau pos polisi terdekat. Ya Allah, syedih. Terima kasih Traveloka :)
Paginya, sekitar jam 6, kita lanjut ke tempat kost adik gue. Eh ternyata lokasinya di belakang kampus barunya. Liat bentar kondisi kamarnya yang ternyata kostannya ini baru banget jadi. Deal lah langsung. Rebeeeeees.
Hari itu, sudah tanggal 5 Juli dan ternyata besok udah Idul Fitri. Woy, gak bawa baju pantas untuk Shalat Ied. Harus langsung balik ke JKT nih! Siang itu juga, meluncur lah kita sekeluarga ke Jakarta. Ngebuuuut. Boong deng. Gak boleh ngebut. Alon alon asal kelakon.
Arus balik sih lancar banget. Gak ketemu Brexit wekekekekeke. Kita pun sampai di Jakarta sekitar pukul 2 dini hari. Lah udah Lebaran itu mah. Bobo bentar doang sampai subuh dan setelah itu siap-siap shalat Ied. Terus abis itu keliling komplek, minta maaf ke tetangga yang mungkin telah aku dzolimi sekalian ngarep dikasih THR (gak inget umur). Setelah itu, kumpul dengan keluarga besar deh seakan-akan perjalanan ke Semarang kemarin hanya sebatas mimpi. Hanya mimpiiiiiiii
Itu lah cerita gak penting perjalanan gue ke Semarang dan menjadi bagian dari penyintas Brexit 2016. Kalau ada reuniannya, gue mau dateng ah. Kan gue juga termasuk alumni. HA Ha ha.... :(
Ada yang beda gak? GAK ADA FOTONYA :)
Hasta La Vista!
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Atas nama BKT 48,
GN
041217
Jalan-jalan lah sebelum jalan-jalan itu dilarang
No comments:
Post a Comment