Assalamu’alaikum wr. wb.
Wih giliran edisi
Ramadhan, gue jadi hobi banget ngetik. Mungkin karena dapat inspirasi atau
karena
lagi gabut di kantor hehehe.
- BUKBER! -
Bukber, atau di
beberapa tempat disebut bubar (seriusan banget ada yang nyebutnya bubar -_-)
pada dasarnya merupakan sebuah kegiatan untuk melakukan buka / membatalkan puasa
(pada waktunya) bersama-sama dengan kerabat terdekat, meliputi keluarga, teman, dan
saudara.
Di entry kali ini,
gue mau nulis tentang dua jenis bukber yang sering dijumpai di masyarakat
Indonesia, terutama yang pernah gue ikuti dan gue lihat. Jenis yang pertama adalah jenis bukber yang mainstream banget dan
akan sering ditemukan selama kurang lebih satu bulan lamanya di bulan Ramadhan .
Sebelum membaca lebih lanjut, gue mau bilang bahwa gue nulis ini bukan untuk
ikut campur sama urusan para pelaku bukber karena
gue juga tiap tahun pasti minimal ikut satu acara bukber. Hanya saja, terkadang
emang suka merenungkan esensi dari kegiatan ini (azek).
Jadi, tidak dapat
dipungkiri bahwa setiap bulan Ramadhan tiba, ajakan bukber pasti akan selalu
ada. Minimal 1 deh. Entah ajakan dari teman kerja, teman kuliah, teman
SD-SMP-SMA, teman main di komplek, teman curhat, teman tapi mesra, mantan yang
jadi teman, ya pokoknya gitu lah. Semua memiliki alasan tersendiri namun yang
paling popular adalah sebagai momen reuni kecil-kecilan dengan teman-teman
lama. KLASIK.
Bukber jenis ini
biasanya sih emang standar banget isinya. Lo dateng, pesan makanan dan minuman,
denger adzan maghrib, makan semua makanannya, (syukur-syukur) shalat maghrib
berjamaah, ngobrol-ngobrol, pulang atau yang mau lanjut babak kedua ya lanjut
lah pindah tempat. Enak sih bisa reuni, kumpul bareng setelah jarang ketemu
setahun belakangan. Namun, pengalaman gue nih setiap abis bukber, pasti ada
sedikit rasa penyesalan yang tertinggal. Rasanya seperti ketika kita
menyia-nyiakan dirinya sewaktu bersama tapi merindukannya setelah berpisah
(BODO AMAT).
Sumber:
http://www.yuniarwijananto.com/wp-content/uploads/2014/07/Mereka-Yang-Ada-Di-Keramaian-Acara-Bukber.jpg
Biasanya tuh
setelah selesai bukber, gue akan merasa HEDON. Anjir ngabisin puluhan hingga
ratusan ribu demi ngenyangin perut setelah puasa seharian. Kepuasan sesaat
hahahaha. Itupun baru selesai satu bukber dan belum bukber-bukber lainnya. Setelah itu nyesel karena makan banyak yang berakibat naiknya berat
badan. Kemudian nyesel karena biasanya bablas gak tarawih, syukur-syukur masih
kuat melek untuk shalat isya. Penyesalan terhebat sih ketika gue bertanya ke
diri sendiri, “uang segitu kenapa gak disumbangin aja coy? Masih banyak yang
membutuhkan uang itu daripada perut lo yang makin maju.” Munafik? Mungkin aja,
toh gue juga manusia.
Lantas, kita gak
boleh ngadain bukber nih? Lo siapa? Duit-duit gue. Gausah ngurusin urusan orang
lain deh. Urusin aja urusan lo sendiri. Bilang aja lo kismin makanya iri sama
yang duitnya banyak. Kalimat ini merupakan kalimat yang sering dijumpai ketika seseorang mencoba ngasih pendapat ke orang lain. HAHAHAHA shytman. Padahal niatnya baik, pak. Toh Rasulullah ketika berdakwah juga mendapat perlakuan yang sama, bahkan lebih parah. Yasudahlah, bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.
Nah, ternyata
belakangan ini lagi marak bukber dengan tipe berbeda, yakni jenis bukber yang
gue sebut “Bukber Barokah”. Jenis bukber ini udah mulai banyak diselenggarakan
kok. Di kampus tempat gue mengenyam pendidikan pun hampir semua UKM-nya bikin
bukber ini. Bukber Barokah ini identik dengan mengadakan acara buka puasa
bersama orang-orang yang kurang mampu, anak-anak yatim / piatu, lansia dan
orang-orang yang membutuhkan. Selain itu biasanya ditambah dengan tilawah
Al-Qur’an, kultum, standup comedy dan acara musik. Iya, standup comedy dan musik
dan lo gak salah baca. Mantap kan? Emeyzink lah pokoknya.
(Bukber di Panti Sosial Bina Remaja Tebet)
Sumber:Dokumentasi Pribadi
Sumber:Dokumentasi Pribadi
Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »
“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana
bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari
bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata,
“Bagi siapakah kamar-kamar
itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang
memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu
manusia pada tidur.”
Seorang yang semangat dalam
kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping
puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan
kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya
sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.” (https://muslim.or.id/4197-pahala-melimpah-di-balik-memberi-makan-berbuka.html)
Gile begajulan lo copas hadits yang barusan lo googling (hahahaha).
Nah, berdasarkan
hadits yang In Syaa Allah shahih di atas, disebutkan bahwa salah satu cara
mendapatkan pahala di bulan Ramadhan adalah dengan memberikan makan orang-orang
yang berbuka puasa. Jadi, diawali dengan niat yang ikhlas (ikhlas seperti surat
Al-Ikhlas dimana tidak ada kata “ikhlas” di dalam surat tersebut) , alangkah
lebih baik untuk berbagi kebahagiaan dan rejeki dengan yang membutuhkan.
Lumayan kan bisa dapat pahala yang berlipat ganda.
Assalamu'alaikum wr. wb.
Kuy,
GN
180616
"Lihatlah orang-orang yang dibawahmu dalam urusan harta dunia, dan jangan sekali-kali melihat yang berada di atasmu, supaya kamu tidak meremehkan karunia Allah yang diberikan kepadamu"
No comments:
Post a Comment