Translate

Saturday, 18 June 2016

Jurnal Ramadhan #2 - Sebuah Tradisi Itu Bernama BUKBER

Assalamu’alaikum wr. wb.

Wih giliran edisi Ramadhan, gue jadi hobi banget ngetik. Mungkin karena dapat inspirasi atau karena 
lagi gabut di kantor hehehe.


- BUKBER! -


Bukber, atau di beberapa tempat disebut bubar (seriusan banget ada yang nyebutnya bubar -_-) pada dasarnya merupakan sebuah kegiatan untuk melakukan buka / membatalkan puasa (pada waktunya) bersama-sama dengan kerabat terdekat, meliputi keluarga, teman, dan saudara.

Di entry kali ini, gue mau nulis tentang dua jenis bukber yang sering dijumpai di masyarakat Indonesia, terutama yang pernah gue ikuti dan gue lihat. Jenis yang pertama adalah jenis bukber yang mainstream banget dan akan sering ditemukan selama kurang lebih satu bulan lamanya di bulan Ramadhan . Sebelum membaca lebih lanjut, gue mau bilang bahwa gue nulis ini bukan untuk ikut campur sama urusan para pelaku bukber karena gue juga tiap tahun pasti minimal ikut satu acara bukber. Hanya saja, terkadang emang suka merenungkan esensi dari kegiatan ini (azek).

Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap bulan Ramadhan tiba, ajakan bukber pasti akan selalu ada. Minimal 1 deh. Entah ajakan dari teman kerja, teman kuliah, teman SD-SMP-SMA, teman main di komplek, teman curhat, teman tapi mesra, mantan yang jadi teman, ya pokoknya gitu lah. Semua memiliki alasan tersendiri namun yang paling popular adalah sebagai momen reuni kecil-kecilan dengan teman-teman lama. KLASIK.

Bukber jenis ini biasanya sih emang standar banget isinya. Lo dateng, pesan makanan dan minuman, denger adzan maghrib, makan semua makanannya, (syukur-syukur) shalat maghrib berjamaah, ngobrol-ngobrol, pulang atau yang mau lanjut babak kedua ya lanjut lah pindah tempat. Enak sih bisa reuni, kumpul bareng setelah jarang ketemu setahun belakangan. Namun, pengalaman gue nih setiap abis bukber, pasti ada sedikit rasa penyesalan yang tertinggal. Rasanya seperti ketika kita menyia-nyiakan dirinya sewaktu bersama tapi merindukannya setelah berpisah (BODO AMAT).

Sumber: 
http://www.yuniarwijananto.com/wp-content/uploads/2014/07/Mereka-Yang-Ada-Di-Keramaian-Acara-Bukber.jpg

Biasanya tuh setelah selesai bukber, gue akan merasa HEDON. Anjir ngabisin puluhan hingga ratusan ribu demi ngenyangin perut setelah puasa seharian. Kepuasan sesaat hahahaha. Itupun baru selesai satu bukber dan belum bukber-bukber lainnya. Setelah itu nyesel karena makan banyak yang berakibat naiknya berat badan. Kemudian nyesel karena biasanya bablas gak tarawih, syukur-syukur masih kuat melek untuk shalat isya. Penyesalan terhebat sih ketika gue bertanya ke diri sendiri, “uang segitu kenapa gak disumbangin aja coy? Masih banyak yang membutuhkan uang itu daripada perut lo yang makin maju.” Munafik? Mungkin aja, toh gue juga manusia.

Lantas, kita gak boleh ngadain bukber nih? Lo siapa? Duit-duit gue. Gausah ngurusin urusan orang lain deh. Urusin aja urusan lo sendiri. Bilang aja lo kismin makanya iri sama yang duitnya banyak. Kalimat ini merupakan kalimat yang sering dijumpai ketika seseorang mencoba ngasih pendapat ke orang lain. HAHAHAHA shytman. Padahal niatnya baik, pak. Toh Rasulullah ketika berdakwah juga mendapat perlakuan yang sama, bahkan lebih parah. Yasudahlah, bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.

Nah, ternyata belakangan ini lagi marak bukber dengan tipe berbeda, yakni jenis bukber yang gue sebut “Bukber Barokah”. Jenis bukber ini udah mulai banyak diselenggarakan kok. Di kampus tempat gue mengenyam pendidikan pun hampir semua UKM-nya bikin bukber ini. Bukber Barokah ini identik dengan mengadakan acara buka puasa bersama orang-orang yang kurang mampu, anak-anak yatim / piatu, lansia dan orang-orang yang membutuhkan. Selain itu biasanya ditambah dengan tilawah Al-Qur’an, kultum, standup comedy dan acara musik. Iya, standup comedy dan musik dan lo gak salah baca. Mantap kan? Emeyzink lah pokoknya.

(Bukber di Panti Sosial Bina Remaja Tebet)
Sumber:
Dokumentasi Pribadi
Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »
Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”
Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.” (https://muslim.or.id/4197-pahala-melimpah-di-balik-memberi-makan-berbuka.html)

Gile begajulan lo copas hadits yang barusan lo googling (hahahaha). 

Nah, berdasarkan hadits yang In Syaa Allah shahih di atas, disebutkan bahwa salah satu cara mendapatkan pahala di bulan Ramadhan adalah dengan memberikan makan orang-orang yang berbuka puasa. Jadi, diawali dengan niat yang ikhlas (ikhlas seperti surat Al-Ikhlas dimana tidak ada kata “ikhlas” di dalam surat tersebut) , alangkah lebih baik untuk berbagi kebahagiaan dan rejeki dengan yang membutuhkan. Lumayan kan bisa dapat pahala yang berlipat ganda.


Assalamu'alaikum wr. wb.

Kuy,



GN
180616

"Lihatlah orang-orang yang dibawahmu dalam urusan harta dunia, dan jangan sekali-kali melihat yang berada di atasmu, supaya kamu tidak meremehkan karunia Allah yang diberikan kepadamu"

No comments:

Post a Comment