Translate

Monday, 6 June 2016

Jurnal Ramadhan #1 - Mari Rapatkan Shaf

Assalamu’alaikum

Selamat datang di blog yang (mungkin) tidak pernah ramai.

Wih udah masuk bulan Ramadhan aja nih. Waktunya berpuasa, shalat tarawih, dan mencoba menghadiri (atau menghindari) fenomena hedonisme masyarakat Indonesia dalam kurang lebih 28 hari, BUKBER. Untuk entry kali ini, berhubung harus puasa dan kebetulan udah dapat kerjaan baru yang jadwal kerjanya cukup bikin waktu istirahat dan main gue berantakan (lah curhat), jadinya gak nulis blog tentang jalan-jalan atau kegiatan-kegiatan deh. Padahal mah bulan lalu ke Ennichisai 2016 tapi mager nulisnya jadi ya kopong deh blog-nya.

Entry kali ini lebih mirip ke opini karena sudah cukup lama ada di pikiran dan akhirnya coba untuk menyampaikan opini tersebut ke media daring (ceileh daring) seperti blog. Jadi gini, udah cukup lama gue berpikir tentang hal ini, yakni tentang merapatkan shaf dalam shalat berjamaah.
Kalau ditanya tentang hal ini, kira-kira penting gak sih? Sepele banget ya keliatannya. Sebelumnya, coba baca hadits di bawah ini:

Hadits dengan lafadz ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya (433) dari shahabat Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu-, dan dalam riwayat Al-Bukhary (723), dengan lafazh:


سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ



”Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”



Semakna dengannya, hadits Abu Hurairah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- dalam riwayat Al-Bukhary (722) dan Muslim (435), dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:



وَأَقِيْمُوْا الصَّفِّ فِي الصَّلاَةِ, فَإِنَّ إِقَامَةِ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ



“Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat”. (Sumber: http://al-atsariyyah.com/wajibnya-merapatkan-dan-meluruskan-shaf.html).


Nah sebelumnya, mari kita samakan pandangan bahwa menurut hadits yang in syaa Allah shahih di atas, bila ingin mendapatkan kesempurnaan dan kebaikan dalam shalat berjamaah, diwajibkan untuk merapatkan shaf. Setuju? Kalau iya, bisa lanjut baca. Kalau engga, ya bebas mau lanjut atau mau berhenti.



Sumber:
https://myrahil.files.wordpress.com/2012/07/ke7.jpg


Nah, yang mau gue ceritain tuh pengalaman pribadi gue. Pernah ada kejadian yang gue alami ketika melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid. Sebelum memulai shalat, Imam mengatakan “tolong rapatkan dan luruskan shaf-nya demi kesempurnaan shalat.” Sip, sip langsung kita luruskan shaf-nya. Sekedar info, jenis karpet yang digunakan di masjid tersebut merupakan jenis yang memudahkan para jamaah untuk meluruskan shaf-nya.


Sumber: 


Yak, menurut gue jenis karpet sajadah yang seperti itu lebih bagus daripada jenis karpet sajadah yang bergambar (masjid, ka’bah, dsb.) karena jenis karpet sajadah ini mencegah para jamaah untuk memiliki “teritori” sendiri ketika shalat. Oke, kembali ke cerita. Jadi, alhamdulillah pada saat itu shaf sudah lurus (paling engga yang gue liat di sebelah kanan dan kiri gue), tapi sangat disayangkan ketika gue mau merapatkan shaf, orang di sebelah gue malah ngejauhin gue. MANTAP. Ya aku bisa apa? Jadilah gue cuma merapatkan shaf ke sisi yang satu lagi. Sedih gan karena pas shalat jadi kepikiran (lah ini yang dinamakan setan hadir di tengah shalat kita) hahahaha

Lalu apa hubungannya antara merapatkan shaf dengan kehidupan kita sehari-hari, selain untuk menyempurnakan shalat kita? Ini semua hanya interpretasi saya sebagai pengamat kehidupan (ha ha ha). Jadi, gue berpendapat bahwa akan sangat sulit bagi Muslim untuk bersatu bila hal sederhana seperti merapatkan shaf saja masih sulit untuk dilakukan karena gue merasa merapatkan shaf itu lebih dari sekedar menyempurnakan shalat dan agar setan-setan gak hadir di antara kita ketika shalat berlangsung. Ada nilai-nilai lain yang terkandung di sana, misalnya dapat diartikan sebagai simbol persatuan antar umat Islam ataupun sebagai bentuk menghilangkan ego dalam diri masing-masing karena tidak dapat dipungkiri terkadang manusia terlalu sulit untuk menghilangkan (minimal mengurangi) egonya masing-masing.

Apapun itu, selain untuk mendapatkan kesempurnaan dalam shalat, merapatkan shaf ternyata juga dapat dilihat dari sudut pandang lain. Interpretasi setiap orang tentang hal ini mungkin berbeda, namun gue sih tetap percaya bahwa semua peraturan, terlepas kita menyukainya atau tidak, pasti selalu ada hikmahnya.

Udah gitu aja? Ya emang gitu aja hehehe. Terima kasih sudah membaca blog yang sepi pengunjung ini. Semoga Ramadhan kali ini berkah untuk kita semua. Aamiin.

Di bulan yang suci ini mari kita perbanyak ibadah dan amal, serta kurangi perbuatan yang sia-sia. Asik sekali nak.

Assalamu’alaikum

Yours truly,


GN

060616

No comments:

Post a Comment