Halo pemirsa !!!
Annyeonghaseyo!
Annyeonghaseyo!
Jumpa lagi bareng gue, blogger yang blog-nya gak pernah rame. Di entry kali ini, gue mau ceritain sedikit aja tentang rejeki gue dapat jalan-jalan ke Korea Selatan. Tadinya males nulis ini tapi nyokap gue yang galak, tapi tetap aku sayang, ngasih saran untuk mulai nulis blog lagi. Yasudahlah ya daripada gak ada kerjaan.
Semua berawal dari bujukan nyokap, yang kebetulan memang lagi dinas di Seoul, supaya gue nemenin beliau. Mendadak ingat lagu yang liriknya berbunyi, "Surga di telapak kaki Ibu. Itulah Hadist Nabi Muhammad (S.A.W.)." Yasudahlah ya saya cus ke sana setelah sebelumnya mengundurkan diri dari tempat kerjaan pertama gue pasca wisuda.
Jadi, tiba saatnya pergi ke Korea Selatan!
Berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan transit cukup lama di Kuala Lumpur (sengaja). Lumayan jalan-jalan bentar sembari ditemani teman lama yang lagi kuliah di sana. Tengah malam balik ke bandara dan lanjut perjalanan ke Seoul.
Akhirnya tiba juga di Bandara Internasional Incheon yang masuk 5 besar bandara paling bagus se-dunia!
Akhirnya tiba juga di Bandara Internasional Incheon yang masuk 5 besar bandara paling bagus se-dunia!
Kalau ke Seoul gak pakai fasilitas tour & travel alias backpacker atau mungkin emang mau eksplorasi sendirian ke negara orang, dari Incheon disediakan transportasi umum kok. Bisa naik Bis Bandara (semacam Damri) atau naik kereta, KTX ataupun AREX. Berhubung gak pernah naik bis bandara, jadi gak tau harganya berapa. Kalau naik KTX, harganya 12.000 Won (kalau gak salah). Kalau naik AREX, harganya lebih murah, 8.000 Won (kalau gak salah juga) tapi jadwal kereta per harinya gak sebanyak KTX jadi ya cek dulu dek jadwalnya sebelum beli tiket. Nah semua transportasi tersebut, nanti pasti akan berhenti di Seoul Station.
Karena rejeki, kebetulan gue di Seoul lumayan lama dan gak usah bayar biaya nginep, jadi gue memutuskan untuk ngebolang. Jangan takut ngebolang di Seoul karena transportasi publiknya sudah sangat bagus. Oleh sebab itu, jalan-jalan gue di Seoul kebanyakan menggunakan transportasi publik karena sayang aja kalau di negara yang transportasi publiknya sudah bagus kayak gini tapi gak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lumayan ngerasain apa yang belum bisa dirasain di Jakarta. Sekalian olahraga karena memerlukan tenaga lebih untuk jalan kaki.
Oke, beberapa tips awal nih untuk yang mau ngebolang ke Seoul dan rela nyasar, rela lebih banyak buang-buang waktu tetapi bisa ngerasain enaknya jalan sesuka hati sambil lirik ke kanan dan ke kiri.
Ingat, semua ini gak harus diikutin ya
Ingat, semua ini gak harus diikutin ya
1. Tuker uang ke Won (yaiyalah)
Cek dulu ya kurs-nya. Biasanya sih 1 Won itu 11-12 Rupiah tergantung kekuatan Rupiah dalam menghadapi pergolakan nilai tukar Dolar Amerika Serikat yang suka galau setiap harinya.
Tips tambahan: Jangan coba me-rupiah-kan semua harga di Korea karena memang mata uang rupiah itu salah satu yang terendah di dunia. Jadi, pasti semuanya kelihatan mahal.
2. Beli T-Money
Ini kartu semacam E-Mon*y, Fl*zz, Br*zzi, dkk. Seluruh transportasi publik di sini pakai T-Money. Bahkan bisa dipakai buat belanja. Tapi, kalau buat belanja mending bayar tunai aja sih karena kalau di pasar-pasar tradisional mereka biasanya gak pakai T-Money. Ada beberapa merek T-Money tapi fungsinya sama aja kok.
3. Beli kartu pra-bayar atau sewa modem wi-fi
Apa fungsinya? Ya ente bisa browsing tempat-tempat wisata dan yang paling penting adalah bisa buka google maps dimana google maps Korea menyediakan informasi lengkap transportasi publik, jadi jangan takut nyasar ke tempat tujuan ya. Ada yang bilang gak butuh beli ini karena banyak wi-fi publik gratis. Tapi, ya namanya juga publik jadi ya bayangin sendiri aja lah hehe. Oiya, kartu pra-bayar ini lumayan mahal, bisa 10.000-20.000 Won untuk paket 1 GB. Kalau modem wi-fi, setau gue bisa disewa di bandara tapi kurang tau deh harga sewa dan cara sewanya gimana karena gue belum nyoba. Coba di googling sendiri ya hehehe (gak membantu sama sekali).
4. Bawa kamus atau unduh google translate di hape
Oke ini sedikit lebay, tapi coba jangan baper kalau mayoritas orang Korea gak bisa bahasa Inggris. Mbak-mbak KF* (restoran ayam yang logonya kakek kumisan) bahkan bisa jadi ora ngarti boso londo (pengalaman pribadi). Atau ajak temen yang bisa bahasa Korea. Minimal yang bisa baca tulisan Korea. Sumpah, membantu banget.
5. Jangan salah kostum
Kalau niatnya eksplorasi, ya coba pakai baju, celana, sepatu yang nyaman supaya ketika jalan-jalan, ente gak ribet sendiri. Cek dulu suhu di luar. Gak asik juga dingin-dingin gak pakai jaket atau panas-panas malah pakai jaket tebal. Jangan rempong. Kalau pun ketemu Joong-Ki, dia gak bakalan kenal juga sama ente :(
6. Sering-sering cek google maps atau aplikasi transportasi publik lainnya
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebenarnya informasi mengenai wisata di Seoul maupun wilayah Korea Selatan lainnya sangat mudah untuk dicari. Selain blog-blog para traveler yang pernah ke sini, orang yang ngakunya traveler seperti gue, ataupun situs resmi pemerintah Korea Selatan.
Nih situsnya: http://english.visitkorea.or.kr/enu/index.jsp . LENGKAP GAN!
Eh mau promosi nih. Ada situs baru tentang berita Korea Selatan milik masyarakat Indonesia di Korea Selatan. Coba cek deh: http://kepokorea.com/. Lumayan bisa update terus tentang Korea Selatan.
Nih situsnya: http://english.visitkorea.or.kr/enu/index.jsp . LENGKAP GAN!
Eh mau promosi nih. Ada situs baru tentang berita Korea Selatan milik masyarakat Indonesia di Korea Selatan. Coba cek deh: http://kepokorea.com/. Lumayan bisa update terus tentang Korea Selatan.
Oke lanjuuuut!
Berikut adalah hasil gue ngebolang selama di Korea Selatan. Demi memperbaharui blog gue yang selalu sepi, okelah, mari dimulai.
Berikut adalah hasil gue ngebolang selama di Korea Selatan. Demi memperbaharui blog gue yang selalu sepi, okelah, mari dimulai.
I. JSS (Jalan Samping Sungai)
Han Gang
Han Gang
Bagi yang belum tau, Korea Selatan dipisahkan oleh sungai besar yang bernama Han Gang (Sungai Han). Nah, di Seoul, jangan kaget kalau banyak banget jembatan yang melintasi sungai besar ini karena emang benar-benar kepisah wilayahnya jadi mau gak mau harus menyeberangi jembatan. Eh balik lagi ke Han Gang. Han Gang punya ruang terbuka hijau di sisinya. Bisa dibuat jjp, jjs, olahraga, piknik, macem-macem lah pokoknya.
Wilayah yang paling terkenal untuk jalan-jalan adalah pinggiran Han Gang di wilayah Yeoeuido-Dong, yakni di antara Mapo Bridge dan Wonhyo Bridge. Di situ rame banget kalau sore, bahkan ada wisata kapal pesiarnya. Belom pernah nyoba sih, tapi sepertinya asik. Bisa banget kok makan malam romantis di situ. Kalau memang lagi gak butuh yang begituan, jangan ragu untuk jalan-jalan di pinggir sungainya saja sembari menikmati pemandangan-pemandangan indah. Oiya katanya sih ini tempat sering dijadiin tempat syuting-syuting gitu karena kalau musim bunga mekar karena di sini memang bagus pemandangannya.
Cheonggyecheon Stream
Kalau menurut gue sih ini sungai yang paling terkenal banget karena entah dimulai dari siapa, gue sering banget liat foto before-after sungai ini. Jadi ceritanya dulu ini sungai kotor banget karena di bantarannya kumuh, semacam Ciliwung dan mayoritas sungai-sungai di Jakarta mungkin. Nah hebatnya, pemerintah lokal bisa merubah itu semua. Sekarang, sungai di daerah Cheonggyecheon ini benar-benar enak untuk dipandang mata. Sungai yang panjangnya hampir 11 KM ini cocok buat jalan jalan sore bareng keluarga atau pacar atau teman-teman bagi yang gak punya pacar atau gak mau ngajak pacarnya.
Intinya, jangan sampai gak mampir ke sini deh. Ah, jadi baper di Jakarta belum ada sungai seperti ini.
II. Football Freak!
Seoul World Cup Stadium
Dikarenakan gue ngakunya anak sepakbola (Forza Juve!), kunjungan ke tempat-tempat berbau olahraga, khususnya sepakbola, merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Nah, di tahun 2002, Korea Selatan, bersama Jepang, jadi tuan rumah Piala Dunia. Oleh karena itu, di Seoul akhirnya dibangun stadion sepakbola baru, namanya Seoul World Cup Stadium. Bahkan subway pun berhenti di sini, jadi gak perlu takut nyasar. Stadion ini sekarang jadi markas FC Seoul.
Stadion ini cukup unik karena selain jadi stadion sepakbola, stadion ini juga terintegrasi dengan supermarket, wedding hall, mall, bahkan bioskop. Iya, BIOSKOP. Info tambahan, bioskop di Korea udah buka dari pagi. Ada film yang diputer jam 08.00 PAGI dan harganya lebih murah dari harga normal. Ahay sekali lah pokoknya. Nah balik lagi ke Seoul World Cup Stadium. Kalau lagi gak ada pertandingan, bisa banget ngintip ke dalam stadion hingga ke ruang ganti pemain dengan hanya membayar sebesar 1.000 Won. Saya mah apa atuh. Tur singkat ke stadion bola seperti ini aja udah bikin senang banget :(
Seoul Olympic Stadium
Dibangun untuk Olimpiade tahun 1988. Di satu komplek olahraga yang mirip dengan Gelora Bung Karno ini, ada berbagai macam gedung olahraga. Yang paling keliatan sih stadion baseball dan stadion bola (bola lagi, bola lagi). Untuk bola, stadionnya dipakai oleh Seoul E-Land FC, tim divisi 2 Liga Sepakbola Korea Selatan. Sedihnya adalah, pas gue ke sini, stadionnya tutup. Antara tutup atau memang gak ada wisata ke dalam stadion.
Kalau mau ke sini, bisa naik subway lalu turun di Sports Complex Station.
III. Wisata Pemandangan
Namsan Seoul Tower
Kalau di Tokyo ada Tokyo Tower, di Seoul juga ada yang namanya Namsan Seoul Tower. Yang ngebedain adalah Namsan Tower berada di atas bukit, ya karena Seoul dikelilingi bukit-bukit gitu. Nah, Namsan Tower tuh posisinya bener-bener di atas bukit. Berhubung gue kebanyakan gaya, jadi gue gak naik kereta gantung ataupun bis untuk menuju ke atas alias jalan kaki atau semi-hiking. Sok-sok ngikutin orang-orang yang mungkin emang niatnya olahraga. Kalau pakai bahasa Inggris, it's worth it.
Begitu udah sampai ke atas, jangan lupa mampir ke wilayah "Gembok Cinta". Kalau ke sini sama pacar atau teman (bagi yang gak punya atau gak bisa/ gak mau ajak pacarnya), jangan lupa siapin gembok-gembok lucu. Bisa banget ninggalin gemboknya di sini semacam Love Lock di Paris yang katanya sudah dicopotin itu karena bisa bikin jembatannya roboh. Kalau lupa bawa gembok, jangan sedih karena di sana ada yang jual kok. Setelah liat gembok-gembok cinta, bisa lanjut masuk ke puncak Namsan Tower. Nah, di sini harus bayar paling murah, kalau gak salah, 10.000 Won, tergantung paketnya. Kalau gak mau, masih bisa kok ngeliat pemandangan Seoul karena emang wilayah Namsan Tower tuh cukup tinggi. Han Gang pun bisa keliatan. Bisa liat isi hati dia juga gak? Kurang tau deh :(
Untuk ke puncak Namsan Tower, bisa naik bis Namsan Shuttle Bus #2, #3, atau #5 yang emang rutenya muter-muter dari Namsan Tower trus ntar lewat tempat-tempat belanja buat turis di sekitar situ atau naik kendaraan sampai ke daerah kereta gantung. Coba cek infonya sendiri ya di sini http://www.nseoultower.co.kr/eng/visit/traffic.asp. Nah kalau naik kendaraan kan jadinya gak perlu capek-capek jalan kaki ke atas, kecuali kalau emang mau liat pemandangan, capek, keringetan, ngencengin betis, dan punya banyak waktu karena emang cukup melelahkan.
Banpo Bridge
Lanjut ke wisata pemandangan lainnya. Kali ini, lanjut ke jembatan yang kayaknya paling terkenal di Seoul, Banpo Bridge. Apa sih yang bikin jembatan ini terkenal? Jembatan ini bisa ngucurin air mancur! WOW!
Cek dulu deh di sini untuk jadwal air mancurnya supaya gak zonk kalau jalan ke sana: http://english.visitkorea.or.kr/enu/ATR/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=1011983.
Nah kalau malam, ada lampu-lampu cantique (baca: cantik) yang menyinari air mancurnya. Itu lah magnet utamanya kenapa jembatan ini ramai banget dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Jadi, kalau mau datang ke sini ya malem-malem. Pokoknya, maknyuuuuuus deh.
Mapo Bridge
Selanjutnya ada Mapo Bridge. Sebenarnya, gak ada yang spesial dari jembatan ini, apalagi kalau dibandingin sama Banpo Bridge. Kebetulan aja gue pernah jalan kaki lewat jembatan ini dan setelah gue bandingin sama jembatan lainnya yang melintasi Han Gang, di jembatan ini disediakan tempat istirahat untuk pejalan kaki agar dapat sekalian menikmati pemandangan Han Gang.
Cek di wikipedia ternyata jembatan ini dulu pernah dinamakan Seoul Bridge dan punya reputasi jadi jembatan paling populer untuk bunuh diri. Duh.
Wilayah yang paling terkenal untuk jalan-jalan adalah pinggiran Han Gang di wilayah Yeoeuido-Dong, yakni di antara Mapo Bridge dan Wonhyo Bridge. Di situ rame banget kalau sore, bahkan ada wisata kapal pesiarnya. Belom pernah nyoba sih, tapi sepertinya asik. Bisa banget kok makan malam romantis di situ. Kalau memang lagi gak butuh yang begituan, jangan ragu untuk jalan-jalan di pinggir sungainya saja sembari menikmati pemandangan-pemandangan indah. Oiya katanya sih ini tempat sering dijadiin tempat syuting-syuting gitu karena kalau musim bunga mekar karena di sini memang bagus pemandangannya.
Cheonggyecheon Stream
Kalau menurut gue sih ini sungai yang paling terkenal banget karena entah dimulai dari siapa, gue sering banget liat foto before-after sungai ini. Jadi ceritanya dulu ini sungai kotor banget karena di bantarannya kumuh, semacam Ciliwung dan mayoritas sungai-sungai di Jakarta mungkin. Nah hebatnya, pemerintah lokal bisa merubah itu semua. Sekarang, sungai di daerah Cheonggyecheon ini benar-benar enak untuk dipandang mata. Sungai yang panjangnya hampir 11 KM ini cocok buat jalan jalan sore bareng keluarga atau pacar atau teman-teman bagi yang gak punya pacar atau gak mau ngajak pacarnya.
Intinya, jangan sampai gak mampir ke sini deh. Ah, jadi baper di Jakarta belum ada sungai seperti ini.
II. Football Freak!
Seoul World Cup Stadium
Dikarenakan gue ngakunya anak sepakbola (Forza Juve!), kunjungan ke tempat-tempat berbau olahraga, khususnya sepakbola, merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Nah, di tahun 2002, Korea Selatan, bersama Jepang, jadi tuan rumah Piala Dunia. Oleh karena itu, di Seoul akhirnya dibangun stadion sepakbola baru, namanya Seoul World Cup Stadium. Bahkan subway pun berhenti di sini, jadi gak perlu takut nyasar. Stadion ini sekarang jadi markas FC Seoul.
Stadion ini cukup unik karena selain jadi stadion sepakbola, stadion ini juga terintegrasi dengan supermarket, wedding hall, mall, bahkan bioskop. Iya, BIOSKOP. Info tambahan, bioskop di Korea udah buka dari pagi. Ada film yang diputer jam 08.00 PAGI dan harganya lebih murah dari harga normal. Ahay sekali lah pokoknya. Nah balik lagi ke Seoul World Cup Stadium. Kalau lagi gak ada pertandingan, bisa banget ngintip ke dalam stadion hingga ke ruang ganti pemain dengan hanya membayar sebesar 1.000 Won. Saya mah apa atuh. Tur singkat ke stadion bola seperti ini aja udah bikin senang banget :(
Seoul Olympic Stadium
Dibangun untuk Olimpiade tahun 1988. Di satu komplek olahraga yang mirip dengan Gelora Bung Karno ini, ada berbagai macam gedung olahraga. Yang paling keliatan sih stadion baseball dan stadion bola (bola lagi, bola lagi). Untuk bola, stadionnya dipakai oleh Seoul E-Land FC, tim divisi 2 Liga Sepakbola Korea Selatan. Sedihnya adalah, pas gue ke sini, stadionnya tutup. Antara tutup atau memang gak ada wisata ke dalam stadion.
Kalau mau ke sini, bisa naik subway lalu turun di Sports Complex Station.
III. Wisata Pemandangan
Namsan Seoul Tower
Kalau di Tokyo ada Tokyo Tower, di Seoul juga ada yang namanya Namsan Seoul Tower. Yang ngebedain adalah Namsan Tower berada di atas bukit, ya karena Seoul dikelilingi bukit-bukit gitu. Nah, Namsan Tower tuh posisinya bener-bener di atas bukit. Berhubung gue kebanyakan gaya, jadi gue gak naik kereta gantung ataupun bis untuk menuju ke atas alias jalan kaki atau semi-hiking. Sok-sok ngikutin orang-orang yang mungkin emang niatnya olahraga. Kalau pakai bahasa Inggris, it's worth it.
Begitu udah sampai ke atas, jangan lupa mampir ke wilayah "Gembok Cinta". Kalau ke sini sama pacar atau teman (bagi yang gak punya atau gak bisa/ gak mau ajak pacarnya), jangan lupa siapin gembok-gembok lucu. Bisa banget ninggalin gemboknya di sini semacam Love Lock di Paris yang katanya sudah dicopotin itu karena bisa bikin jembatannya roboh. Kalau lupa bawa gembok, jangan sedih karena di sana ada yang jual kok. Setelah liat gembok-gembok cinta, bisa lanjut masuk ke puncak Namsan Tower. Nah, di sini harus bayar paling murah, kalau gak salah, 10.000 Won, tergantung paketnya. Kalau gak mau, masih bisa kok ngeliat pemandangan Seoul karena emang wilayah Namsan Tower tuh cukup tinggi. Han Gang pun bisa keliatan. Bisa liat isi hati dia juga gak? Kurang tau deh :(
Untuk ke puncak Namsan Tower, bisa naik bis Namsan Shuttle Bus #2, #3, atau #5 yang emang rutenya muter-muter dari Namsan Tower trus ntar lewat tempat-tempat belanja buat turis di sekitar situ atau naik kendaraan sampai ke daerah kereta gantung. Coba cek infonya sendiri ya di sini http://www.nseoultower.co.kr/eng/visit/traffic.asp. Nah kalau naik kendaraan kan jadinya gak perlu capek-capek jalan kaki ke atas, kecuali kalau emang mau liat pemandangan, capek, keringetan, ngencengin betis, dan punya banyak waktu karena emang cukup melelahkan.
Banpo Bridge
Lanjut ke wisata pemandangan lainnya. Kali ini, lanjut ke jembatan yang kayaknya paling terkenal di Seoul, Banpo Bridge. Apa sih yang bikin jembatan ini terkenal? Jembatan ini bisa ngucurin air mancur! WOW!
Cek dulu deh di sini untuk jadwal air mancurnya supaya gak zonk kalau jalan ke sana: http://english.visitkorea.or.kr/enu/ATR/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=1011983.
Nah kalau malam, ada lampu-lampu cantique (baca: cantik) yang menyinari air mancurnya. Itu lah magnet utamanya kenapa jembatan ini ramai banget dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Jadi, kalau mau datang ke sini ya malem-malem. Pokoknya, maknyuuuuuus deh.
Mapo Bridge
Selanjutnya ada Mapo Bridge. Sebenarnya, gak ada yang spesial dari jembatan ini, apalagi kalau dibandingin sama Banpo Bridge. Kebetulan aja gue pernah jalan kaki lewat jembatan ini dan setelah gue bandingin sama jembatan lainnya yang melintasi Han Gang, di jembatan ini disediakan tempat istirahat untuk pejalan kaki agar dapat sekalian menikmati pemandangan Han Gang.
Cek di wikipedia ternyata jembatan ini dulu pernah dinamakan Seoul Bridge dan punya reputasi jadi jembatan paling populer untuk bunuh diri. Duh.
IV. Belanjo, Belanjo
Myeongdong
Lah iki. Surga banget bagi para wanita. "Titip masker dong. Titip lip tint dong. Titip BB cream dong. Titip eye liner dong. Titip pensil alis dong." Ya kira-kira seperti itu permintaan para wanita (yang tidak disebutkan nama-namanya) begitu tau gue lagi di Korsel. Gara-gara itu, gue mendadak jadi tau merek kosmetik dan jenis-jenis kosmetiknya. Mulai dari Et*de, Nature Republ*k, The Face Sh*p, Tony M*ly, Sk*n Fo*d, dll. Mantap sekali nak.
Mau beli pernak-pernik para karakter asli Line Sticker semacam Cony, Brown, James, Sally, dkk.? Ke LINE Friends aja! Tapi jangan baper ya kalau harus ngantri karena emang banyak banget yang mau masuk ke toko ini, meskipun cuma mau foto sama Brown versi raksasa doang :(
Lah iki. Surga banget bagi para wanita. "Titip masker dong. Titip lip tint dong. Titip BB cream dong. Titip eye liner dong. Titip pensil alis dong." Ya kira-kira seperti itu permintaan para wanita (yang tidak disebutkan nama-namanya) begitu tau gue lagi di Korsel. Gara-gara itu, gue mendadak jadi tau merek kosmetik dan jenis-jenis kosmetiknya. Mulai dari Et*de, Nature Republ*k, The Face Sh*p, Tony M*ly, Sk*n Fo*d, dll. Mantap sekali nak.
Mau beli pernak-pernik para karakter asli Line Sticker semacam Cony, Brown, James, Sally, dkk.? Ke LINE Friends aja! Tapi jangan baper ya kalau harus ngantri karena emang banyak banget yang mau masuk ke toko ini, meskipun cuma mau foto sama Brown versi raksasa doang :(
Kalau boleh kasih saran sih, jangan beli oleh-oleh semacam gantungan kunci, magnet kulkas, pernak pernik artis Korea, atau apapun itu di sini deh karena harganya lumayan mahal. Di Myeongdong mah beli kosmetik dan yang berbau fashion-fashion ajeeee. Kalau mau, mending ke pasar yang bentar lagi akan gue jelasin karena harganya relatif lebih murah. Lumayan kan bisa hemat.
Dongdaemun
Nah, di daerah Dongdaemun tuh lumayan banyak yang namanya MALL, tepatnya di seputaran Dongdaemun History & Culture Park. Ada Lotte Fitin, Migliore, Hello apM, Doota!, dll. Buat pecinta bola, bisa mampir ke Nike dan Adidas Store (yang di lantai 4 ternyata jual merchandise resmi K-League). Nah waktu itu pernah mampir ke Doota! sama nyokap. Uniknya di sini meskipun mirip mall dan ada harga pastinya, tetap aja barangnya bisa ditawar. Bayangin beli baju di Matah*ri tapi bilang ke mbak-mbaknya, "Mbak, bisa turun lagi gak harganya?" dan ternyata bisa diturunin harganya. Luar biasa.
Ke utara dikit, ada pasar tradisional Dongdaemun yang jual banyak banget sepatu. Gak tau kw super atau enggak yang jelas banyak banget sepatunya. Jadi inget Taman Puring.
Dongdaemun
Nah, di daerah Dongdaemun tuh lumayan banyak yang namanya MALL, tepatnya di seputaran Dongdaemun History & Culture Park. Ada Lotte Fitin, Migliore, Hello apM, Doota!, dll. Buat pecinta bola, bisa mampir ke Nike dan Adidas Store (yang di lantai 4 ternyata jual merchandise resmi K-League). Nah waktu itu pernah mampir ke Doota! sama nyokap. Uniknya di sini meskipun mirip mall dan ada harga pastinya, tetap aja barangnya bisa ditawar. Bayangin beli baju di Matah*ri tapi bilang ke mbak-mbaknya, "Mbak, bisa turun lagi gak harganya?" dan ternyata bisa diturunin harganya. Luar biasa.
Ke utara dikit, ada pasar tradisional Dongdaemun yang jual banyak banget sepatu. Gak tau kw super atau enggak yang jelas banyak banget sepatunya. Jadi inget Taman Puring.
Namdaemun
Kalau kata teman gue, "bawain oleh-oleh itu hukumnya sunnah, Lang." Ini anak ngerti banget celah. Kalau ingin cari oleh-oleh di Seoul, coba mampir ke Namdaemun. Banyak banget barang murah di sini. Gak usah takut kehabisan lah pokoknya. Oiya, letak Namdaemun ini gak jauh dari Myeongdong. Jalan kaki paling 10 menit. Jadi, setelah hedon belanja kosmetik, harus banget mampir ke sini untuk belanja oleh-oleh. Mau kebalikannya juga boleh.
Itaewon
Bosan melihat muka orang Korea yang kalau diperhatikan ternyata mirip? Eh gak juga sih. Kalau mau ke tempat belanja yang bernuansa internasional sambil melihat muka-muka non Korea, coba ke Itaewon deh. Konsepnya emang gak seperti Myeongdong atau Namdaemun tapi jangan sedih karena barang yang dijual juga relatif murah kok. Coba telusuri sepanjang jalan Itaewon, siapa tau bisa nemuin barang-barang unik.
Di Itaewon juga ada toko LINE Friends loh. Gak jauh beda sama yang Myeongdong, bahkan lebih sepi jadi gak perlu ngantri. Tenang aja, tetap ada Brown versi yang cukup gede kok buat foto-foto unyu.
Yongsan Electronics Market
Pusatnya belanja barang elektronik nih. Kalau mau ke mall-nya, coba ke I'Park Mall. Ada lah satu lantai isinya cuma jualan handphone sama tivi. Ada juga lapangan futsal di area rooftop-nya. Asik sekali lah. Jangan lupa mampir ke lantai 3 (kalau gak salah) karena ada toko Studio Ghibli, Gundam, Tamiya semacam Sonic dan Lightning Saber, dan ada Lego juga. Gue aja akhirnya beli satu tamiya yang ternyata dinamo-nya dijual terpisah dan bukan dinamo "Champ" yang sudah "dikilik" pula (sedih). Cocok nih buat para kolektor mainan.
Kalau kata teman gue, "bawain oleh-oleh itu hukumnya sunnah, Lang." Ini anak ngerti banget celah. Kalau ingin cari oleh-oleh di Seoul, coba mampir ke Namdaemun. Banyak banget barang murah di sini. Gak usah takut kehabisan lah pokoknya. Oiya, letak Namdaemun ini gak jauh dari Myeongdong. Jalan kaki paling 10 menit. Jadi, setelah hedon belanja kosmetik, harus banget mampir ke sini untuk belanja oleh-oleh. Mau kebalikannya juga boleh.
Itaewon
Bosan melihat muka orang Korea yang kalau diperhatikan ternyata mirip? Eh gak juga sih. Kalau mau ke tempat belanja yang bernuansa internasional sambil melihat muka-muka non Korea, coba ke Itaewon deh. Konsepnya emang gak seperti Myeongdong atau Namdaemun tapi jangan sedih karena barang yang dijual juga relatif murah kok. Coba telusuri sepanjang jalan Itaewon, siapa tau bisa nemuin barang-barang unik.
Di Itaewon juga ada toko LINE Friends loh. Gak jauh beda sama yang Myeongdong, bahkan lebih sepi jadi gak perlu ngantri. Tenang aja, tetap ada Brown versi yang cukup gede kok buat foto-foto unyu.
Yongsan Electronics Market
Pusatnya belanja barang elektronik nih. Kalau mau ke mall-nya, coba ke I'Park Mall. Ada lah satu lantai isinya cuma jualan handphone sama tivi. Ada juga lapangan futsal di area rooftop-nya. Asik sekali lah. Jangan lupa mampir ke lantai 3 (kalau gak salah) karena ada toko Studio Ghibli, Gundam, Tamiya semacam Sonic dan Lightning Saber, dan ada Lego juga. Gue aja akhirnya beli satu tamiya yang ternyata dinamo-nya dijual terpisah dan bukan dinamo "Champ" yang sudah "dikilik" pula (sedih). Cocok nih buat para kolektor mainan.
Catatan Tambahan: Sebenarnya masih ada daerah Insadong dan Hwagok yang katanya murah-murah banget barang jualannya, serta COEX Mall yang katanya sih mall bawah tanah terbesar di Korea tapi berhubung kurang niat belanja jadinya gak sempat mampir ke sana. Mungkin lain kali.
V. Yang Halal-Halal
Berhubung gue beragama Islam, jadi gue mau coba berbagi info khususnya untuk teman-teman Muslim karena Islam kan minoritas di Korea Selatan (hehehe). Mungkin bisa jadi referensi kalau mau jalan-jalan ke Seoul.
Berhubung gue beragama Islam, jadi gue mau coba berbagi info khususnya untuk teman-teman Muslim karena Islam kan minoritas di Korea Selatan (hehehe). Mungkin bisa jadi referensi kalau mau jalan-jalan ke Seoul.
Seoul Central Masjid
Satu-satunya Masjid di Seoul nih. Letaknya di daerah Itaewon. Masjid ini dibangun atas bantuan dari pemerintah Arab Saudi. Nah, kalau kebetulan ada di Seoul pas hari Jum'at, harus banget merasakan sensasi Shalat Jum'at di negara yang Muslim-nya minoritas. Eh gak hari Jum'at juga gak apa-apa sih. Shalat mah shalat aja. Oiya, Masjid ini juga sering dijadiin tempat wisata kok. Tiap hari ada aja kok turis-turis yang datang untuk foto-foto.
Oiya, khusus wanita, jangan lupa pakai pakaian yang sopan. Aturan berpakaian untuk kaum hawa emang lumayan ketat nih, jadi jangan sampai salah kostum ya.
Oiya, khusus wanita, jangan lupa pakai pakaian yang sopan. Aturan berpakaian untuk kaum hawa emang lumayan ketat nih, jadi jangan sampai salah kostum ya.
Untuk urusan makan,
info restoran yang akan gue kasih adalah restoran-restoran yang in syaa
Allah halal semua. Untuk yang gak ambil pusing soal halal dan haram,
gak usah bingung untuk makan di Seoul mah. Banyak banget restoran di
sini. Sampai di gang yang super sepi aja ada yang buka usaha restoran.
Nah berikut adalah restoran-restoran yang bisa jadi rekomendasi makan
selama di Seoul.
Muree Halal Korean
Mungkin ini adalah restoran halal paling terkenal yang menyediakan menu masakan Korea di daerah Itaewon. Dari Masjid paling jalan kaki 200 meter. Pemiliknya orang Korea, lumayan cantik sih (loh?) yang ngakunya hampir tiap tahun liburan ke Bali. Porsi lumayan banyak. Harga? Bersaing! Wajib banget mampir ke sini.
Siti Sarah
Restoran yang menyajikan menu-menu klasik Indonesia dan terletak masih satu jalan dengan Muree. Kalau gak salah hampir seberang-seberangan malah. Pemilik restoran ini orang Indonesia, jadi cita rasanya mungkin gak jauh-jauh banget dari lidah Indonesia. Cocok banget bagi yang ingin makan masakan Indonesia tapi makannya di luar Indonesia.
(maaf ternyata ora ono fotonya)
Mr. Kebab
Kalau ini favorit ane selain masakan Indonesia dan Korea. Menurut gue, kalau makan kebab ya harus kebab Turki. Gak tau kenapa gitu. Sebenarnya di Itaewon, restoran-restoran Turki tuh banyak banget. Dari keluar stasiun subway Itaewon, gak tau deh ada berapa restoran Turki di pinggir jalan.
Cobain Doner Pilaf Chicken (pakai nasi) deh dengan harga 8.000 Won. Makanan penutupnya bisa beli es krim Turki yang terkenal itu. Hampir semua restoran Turki di Itaewon biasanya jual es krim ini.
Cobain Doner Pilaf Chicken (pakai nasi) deh dengan harga 8.000 Won. Makanan penutupnya bisa beli es krim Turki yang terkenal itu. Hampir semua restoran Turki di Itaewon biasanya jual es krim ini.
Yang Good Halal Restaurant
Makan Korean BBQ dengan menu daging sapi mungkin sudah biasa. Kalau makan Korean BBQ dengan menu daging domba? Dijamin beda dari yang lain. Itulah menu utama yang ditawarkan oleh Yang Good yang terletak di wilayah Gangnam. Semua dagingnya "halal certified" tapi mereka juga jual bir karena banyak juga warga lokal yang makan di sana. Oiya, gue sama nyokap pernah zonk pas ke sini. Ternyata mereka tutup setiap hari Minggu. Tapi alhamdulillah di kunjungan berikutnya, kita jadi makan di sini. Rasanya? Endeeeees.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Intermezzo!
Hanu (Korean BBQ) Kalau mau coba Korean BBQ dengan daging sapi yang benar-benar enak dagingnya, coba cari restoran yang menyajikan daging sapi HANU. Dagingnya juicy banget nak karena jenis daging ini memang daging premium, bukan pertamax apalagi pertalite (jayus jir). Duh, ngiler. Ada satu nih restorannya di dekat Kedutaan Besar Republik Indonesia tapi gue lupa nama tempatnya. Untuk jenis makanan ini, resiko halal dan belum tentu halal ditanggung sendiri ya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
VI. Wisata Spesial
Yuhuuuu. Saatnya jalan-jalan yang sedikit spesial. Sengaja gue buat segmen khusus karena mungkin akan sedikit panjang ceritanya dibanding info-info di atas.
Salut sih buat Korea yang menghormati peninggalan-peninggalan sejarahnya. Bahkan sampai rela membangun ulang bangunan-bangunan bersejarah tersebut meskipun sudah rusak parah. Semoga Indonesia bisa meniru hal ini ya. Aamiin
Jadi, Seoul itu dulunya dikelilingi tembok dan di dalamnya dibangun istana-istana. Ada empat gerbang utama dan empat gerbang kecil. Gue cuma berhasil ngunjungin dua gerbang aja, yakni Gerbang Timur (Heunginjimun) di Dongdaemun dan Gerbang Selatan (Sungnyemun) di Namdaemun.
Di Seoul terdapat beberapa istana populer yang wajib untuk dikunjungi dan gue berhasil menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa istana-istana tersebut. Berhubung pengetahuan gue yang super minim terkait sejarah istana-istana ini, gue akan coba jelasin singkat menurut informasi yang gue dapat dari brosur :p
Deoksugung
Wisata sejarah dimulai dari sini karena ketika gue turun di City Hall Subway Station, gue baru ngeh ternyata ada istana di sini. Komplek istana ini merupakan tempat tinggal raja ketika Dinasti Joseon, terutama pasca perang melawan Jepang karena istana utamanya hancur lebur di akhir tahun 1500-an. Karena sejarahnya panjang, silahkan menikmati beberapa penampakannya terlebih dahulu aja deh.










Di sisi barat istana ini ada gedung bergaya kebarat-baratan yang disebut Seokjojeon Hall dan di sebelahnya ada Deoksugung Art Museum, tapi karena gue buru-buru akhirnya cuma bisa foto penampakannya dari luar. Gila nih solo traveller setengah hati banget jalan-jalannya.
Yuhuuuu. Saatnya jalan-jalan yang sedikit spesial. Sengaja gue buat segmen khusus karena mungkin akan sedikit panjang ceritanya dibanding info-info di atas.
- Royal Palaces -
Kalau hobi nonton drama Korea, harusnya sih tau tentang sejarah Korea yang dulunya kerajaan. Kan ada tuh drama Korea yang ngambil latar belakang zaman kerajaan. Mirip dengan acara yang dulu pernah ada di Ind*siar lah, bedanya di sini GAK ADA NAGA.Salut sih buat Korea yang menghormati peninggalan-peninggalan sejarahnya. Bahkan sampai rela membangun ulang bangunan-bangunan bersejarah tersebut meskipun sudah rusak parah. Semoga Indonesia bisa meniru hal ini ya. Aamiin
Jadi, Seoul itu dulunya dikelilingi tembok dan di dalamnya dibangun istana-istana. Ada empat gerbang utama dan empat gerbang kecil. Gue cuma berhasil ngunjungin dua gerbang aja, yakni Gerbang Timur (Heunginjimun) di Dongdaemun dan Gerbang Selatan (Sungnyemun) di Namdaemun.
(Heunginjimun / Lokasi: Dongdaemun)
(Sungnyemun / Lokasi: Namdaemun)
Deoksugung
Wisata sejarah dimulai dari sini karena ketika gue turun di City Hall Subway Station, gue baru ngeh ternyata ada istana di sini. Komplek istana ini merupakan tempat tinggal raja ketika Dinasti Joseon, terutama pasca perang melawan Jepang karena istana utamanya hancur lebur di akhir tahun 1500-an. Karena sejarahnya panjang, silahkan menikmati beberapa penampakannya terlebih dahulu aja deh.
Nah, karena gue gak tau harus kemana, gue bukannya lurus, malah belok ke kanan (sisi timur). Jadinya, gue gak lewat gerbang utama. Maklum nubie.






Belajar dari kesalahan, akhirnya gue menuju ke gerbang utama, yakni Junghwamun Gate yang di belakangnya terletak Junghwajeon Hall. Itulah yang gue baca di brosur yang baru gue ambil ketika mau pulang.






Kalau mau ke sini, naik subway hingga City Hall lalu keluar di Exit #2. Tiket masuknya cukup 1.000 Won saja. Lumayan bisa jalan-jalan dikit di sini.
Jadi, di perjalanan menuju istana paling hits se-Seoul dari arah Deoksugung, mau gak mau harus melewati daerah ini, Gwanghwamun Plaza. Ada apa sih di sini? Ada dua patung tokoh terkenal seantero Korea, Admiral Yi Sunshin dan King Sejong.
Siapa sih Yi Sun-sin? Menurut wikipedia, Admiral Yi Sunshin "was a Korean naval commander, famed for his victories against the Japanese navy during the Imjin War in the Joseon Dynasty, and is well-respected for his exemplary conduct on and off the battlefield not only by Koreans, but by Japanese admirals as well." Ya kira-kira seperti itu adanya.
Kalau King Sejong itu bedanya apa dibanding raja-raja yang lainnya? Jadi, dinasti yang paling terkenal dalam sejarah Korea adalah Dinasti Joseon (cmiiw). King Sejong, raja ke-4 pada dinasti Joseon merupakan penemu huruf Hangeul yang sekarang ini menjadi huruf resmi bahasa Korea. Kalau penduduk lokal biasanya bilang, "he is a genius."
Lah ternyata di bagian belakang patung ini ada pintu rahasia menuju museum King Sejong dan Admiral Yi Sunshin di bawah tanah dan gue karena buru-buru jadi hanya bisa mampir ke museum King Sejong.
Yuhu, ternyata ada cerita menarik di balik huruf Korea ini. Salah satu suku di Sulawesi, suku Cia-Cia (Pulau Buton), menggunakan Hangeul sebagai huruf asli suku tersebut dalam tiga kategori: menulis, berbicara, dan membaca. Kenapa begitu? Katanya sih karena bahasa suku Cia-Cia lebih cocok menggunakan Hangeul. Bahkan buku pelajaran sekolahnya pakai Hangeul semua. BARU TAU!
Jalan sedikit ke arah utara dari patung King Sejong, akhirnya sampai juga di gerbang istana yang paling populer bagi turis yang datang ke Seoul.
Setelah beli tiket masuk yang harganya 3.000 Won, gue mulai cari brosur dan liat sekeliling sebelum melangkah lebih jauh. Ternyata pengunjung juga bisa sih sewa Hanbok tapi karena gue sendirian dan udah cukup rempong dengan barang bawaan, jadinya gak ikutan tren karena lingkungan istana ini cukup (atau mungkin sangat) luas. Ku tak kuat bila harus ikut-ikutan :(
Lah malah belum cerita sedikit tentang Gyeongbokgung. Jadi, menurut brosur yang gue ambil, Gyeongbokgung dibangun pada tahun 1395 sebagai istana utama Dinasti Joseon yang baru aja terbentuk. Gyeongbokgung sendiri berarti (dalam Bahasa Inggris), "the new dynasty will be greatly blessed and prosperous." Ya kira-kira seperti itu.
Nah, kalau dua foto di atas adalah Gyeonghoeru Pavilion yang dulunya dipakai raja untuk jadi tempat ngejamu tamu-tamu asing, sedangkan foto satu lagi adalah Hyangwonjeong Pavilion yang gue kurang paham fungsinya apa. Kalau tidak salah sih si raja pada saat itu bikin kolam ini untuk istrinya. Ya kurang lebih begitu.
Nah kalau foto kiri atas adalah foto Folk Museum. Bagi yang ingin tau lebih detail tentang sejarah Korea, wajib datang ke sini. Letaknya di timur Gyeongbokgung. Sisanya, gue beneran lupa. Kalau penasaran, bisa cek wikipedia, liat di google maps atau datang sendiri ke sini. UHUY
Changdeokgung
Kalau boleh jujur, sebenarnya gue bahkan gak tau kalau di Seoul ada wisata sejarah seperti ini. Ketika sampai di Seoul baru deh ibu gue ngasih tau. Nah, waktu lagi liat Gyeongbokgung di Google Maps, ternyata ada istana lain di sebelah timur istana ini. Oleh sebab itu setelah dari Gyeongbokgung, dengan langkah gontai karena lelah jalan, gue teruskan perjalanan menuju Changdeokgung yang ternyata masuk Warisan Dunia. Mantap.
Sebelum masuk, jangan lupa beli tiket seharga 3.000 terlebih dahulu ya gan supaya gak malu seperti orang di depan gue yang kicep karena belum beli tiket tapi sudah mau masuk ke dalam pelataran istana.
Mantap nih akhirnya gue masuk juga ke Changdeokgung. Cek brosur dulu gan bentar. Jadi, Changdeokgung dibangun tahun 1405 sebagai istana kedua di era Dinasti Joseon dan sempat hancur lebur ketika Jepang menyerang (hobi banget ngancurin bangunan dah), tetapi dibangun lagi tahun 1610. Changdeokgung bahkan sempat jadi istana utama ketika Gyeongbokgung juga rusak.
Sama seperti istana-istana lainnya, Changdeokgung berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan, tempat menjamu tamu-tamu, tempat pertemuan, dan lainnya sebagaimana sebuah pemerintahan berjalan.
Di bagian belakang istana ini sebenarnya ada Secret Garden, dimana di sana ada bangunan-bangunan dan tempat santai keluarga kerajaan yang sebenarnya bisa dikunjungi hanya dengan nambah bayar 5.000 Won. Tetapi ketika gue ke sana, waktu berkunjung ke taman rahasia tersebut sudah habis untuk hari itu jadinya gak mampir deh.
Changgyeonggung
Di sebelah pintu masuk taman rahasia, ternyata ada pintu masuk ke istana lainnya, yakni Changgyeonggung. Gak apa-apa lah merogoh kocek lagi, tepatnya 1.000 Won. Kentang gan daripada puter balik, jadi ya cus masuk aja lah. Mungkin ajak bisa ketemu Yoona atau Yuri atau Seohyun :(




Okelah kira-kira seperti itu perjalanan gue muter keliling istana-istana cetar membahana di Seoul. Keren sih budaya asli dan budaya modern bisa bersinergi seperti ini, seakan kita dibawa kembali ke masa lalu dan mungkin bisa merasakan sendiri kehidupan yang terjadi pada masa kerajaan dulu. Mendadak jadi inget Yogyakarta.
Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang berhubungan dengan kerajaan yang bisa disambangi tapi capek bro. Jadi, ya alhamdulillah paling enggak bisa mampir ke tempat-tempat hits untuk wisata sejarah di Seoul.
1. Tur ini tidak setiap saat ada. Untuk bulan April 2016 aja, tur-nya hanya ada SEKALI.
2. Dibutuhkan waktu paling telat H-4 sebelum tur berlangsung untuk daftar dan kirim soft copy paspor untuk verifikasi.
3. Harus selalu bawa paspor ketika tur berlangsung.
4. Tidak boleh memakai sembarang pakaian selama tur berlangsung. Detailnya akan dijelaskan oleh penyelenggara tur (hehehe).
5. Bila sudah berada di tujuan utama tur ini, hanya boleh bawa dompet, kamera, dan paspor. Selain itu, seluruh barang bawaan harus ditinggal di dalam bis.
Mantap gak? Jadi, wisata apakah itu? Wisata ke daerah perbatasan militer Korea Selatan dan Korea Utara. Yup, KOREA UTARA.
Kenapa gue ngebet banget ingin ke Korea Utara? Kurang tau juga sih. Bisa jadi karena gue lulusan Hubungan Internasional. Bisa jadi karena teman gue ada yang mirip banget mukanya kayak Kim Jong-Un. Yang jelas, penasaran dengan yang namanya Korea Utara. Oiya, sebelumnya gue baca blog ini http://thriftynomads.com/visiting-north-koreas-dmz-border-a-how-to-guide/ untuk menambah informasi mengenai cara ikutan tur ke JSA & DMZ.
Catatan: Paket tur yang gue ikuti tidak termasuk mampir ke terowongan (3rd Tunnel) yang digali diam-diam oleh Korea Utara. Untung ke-gep sama Korea Selatan. Kalau tidak, habis sudah mereka diserang secara tiba-tiba.
The War Memorial of Korea
Sebelum ke perbatasan, kita menuju The War Memorial of Korea untuk belajar sedikit (atau banyak tergantung fokusnya) tentang sejarah terjadinya perang antara Korea Selatan dan Korea Utara (Korean War). Lokasinya masih di Seoul kok, deket Itaewon.
Kalau disimpulkan kira-kira begini (tolong dikoreksi bila ada kesalahan):
Di tahun 1945 setelah Perang Dunia II selesai, Korea senang sekali karena penjajahan Jepang selama 35 tahun telah selesai (pantes banyak orang Korea yang benci Jepang). Namun karena keserakahan dua negara yang menjadi poros ideologi pada saat itu, dengan seenak udelnya membelah Korea menjadi dua; utara di bawah komando Uni Soviet dan selatan di bawah komando Amerika Serikat. Tadinya rakyat Korea tidak setuju dan mau bikin pemilu untuk menentukan siapa yang jadi kepala negaranya sehingga jadi negara independen, tetapi akhirnya hanya Korea bagian selatan yang bikin pemilu karena Korea bagian utara tidak setuju. Kemudian terbentuklah negara Korea Selatan yang beberapa hari setelahnya disusul dengan terbentuknya negara Korea Utara.
Di tahun 1950, Korea Utara, dengan bantuan China (yang hari ini khusus di Indonesia diganti menjadi Tiongkok), menyerang Korea Selatan yang pada saat itu tidak memiliki armada angkatan bersenjata. Hanya dalam hitungan hari, Seoul sudah dikuasai oleh Korea Utara dan pasukan Korea Selatan dipukul mundur hingga daerah Pusan (sekarang Busan). Lalu seperti yang sudah-sudah, Amerika Serikat muncul sebagai pahlawan dengan memberikan bantuan setelah melakukan serangan lewat pelabuhan Incheon yang waktu tempuhnya hanya sekitar 30 menit naik mobil ke Seoul. Akhirnya Korea Utara balik tertekan hingga dekat perbatasan China. Supaya gak panjang-panjang, akhirnya perang ini berhenti setelah United Nations / PBB terlibat, sehingga di tahun 1953 terjadilah kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata yang berlanjut hingga hari ini dan menghentikan Perang Korea (walaupun hanya sementara).
Nah, sudah dapat gambaran tentang Perang Korea kan? Untuk lebih lengkapnya, bisa cari tau sendiri ya.
Balik lagi ke Museum Perang Korea. Di halaman depan museum, kita bisa melihat monumen perang dan di sisi timur museum ada semacam tempat eksibisi senjata dan kendaraan tempur ketika Perang Korea terjadi. Lumayan bisa buat foto-foto.
Lanjut lah kita ke dalam museum. Salut sih sama Korsel yang bikin museum seperti ini. Modern, aman, nyaman, dikemas menarik dan edukatif. Yang paling penting adalah GRATIS. Yup, GRATIS. Museum benar-benar jadi tempat wisata yang cocok untuk semua umur. Gue mendadak merasa pinter setelah main ke sini.
Imjingak Park
Setelah istirahat singkat di Imjingak Park, saatnya menuju wilayah
perbatasan militer. Mulai titik ini, peraturannya sudah mulai sangat
ketat. Sejak tiba di perbatasan terluar untuk pengecekan paspor oleh oppa tentara Korea Selatan yang ganteng seperti yang sering muncul di drama Korea (muach),
pengunjung sudah gak boleh ambil foto sembarangan! Kita baru boleh
ngambil foto kalau pemandu tur mengizinkan karena memang wilayah ini
sudah masuk wilayah militer.
Penjelasan singkat mengenai perbatasan militer Korea Selatan dan Korea Utara:
Jadi, semenjak gencatan senjata di tahun 1953, disepakati bahwa kedua negara harus "merelakan" sedikit wilayah mereka untuk dijadikan wilayah netral yang lebih dikenal dengan sebutan DMZ. Nah, dari garis perbatasan kedua negara atau Military Demarcation Line (MDL), ditariklah garis sepanjang 2 KM tiap negara. Total 4 KM wilayah tersebut dikenal dengan DMZ.
Camp Bonifas
Sampailah kita ke checkpoint pertama, yakni Camp Bonifas. Nama tempat ini diambil dari nama Kapten Arthur Bonifas yang terbunuh dalam insiden "chopping tree" tahun 1976. Di sini tetap gak boleh foto-foto sembarangan, tapi kalau mau liat seperti apa penampakan di Camp Bonifas, tinggal googling aja. Di Camp Bonifas, kita dikasih penjelasan singkat mengenai Perang Korea (lagi), DMZ dan apa yang terjadi di wilayah ini. Singkat cerita, di wilayah DMZ kedua negara ternyata dibangun sebuah desa. Di kedua desa ini berdiri tiang bendera yang tinggi banget, 98 M di Daesong-dong Village (Korea Selatan) dan 160 M di Kijong-dong Village (Korea Utara) yang sering disebut dengan "Propaganda Village" oleh orang-orang Korsel karena desa ini gak ada penghuninya bahkan banyak bangunan yang belum selesai dibangun.
Setelah briefing singkat, kita lanjut ke Joint Security Area dengan menaiki bis militer. Asik sekali nak. Oiya, oppa tentara ganteng kebetulan di bis yang gue tumpangi loh. Sayang banget gak boleh ambil foto mukanya padahal cewek-cewek bisa meleleh kalau liat level kegantengannya dia yang ternyata 100x lebih ganteng dari gue :(
Joint Security Area (JSA)
Akhirnya sampai juga di checkpoint 2 yakni Joint Security Area yang terletak di MDL kedua negara. Wilayah ini berada di bawah pengawasan Persatuan Bangsa-Bangsa jadi meskipun deg-degan, keliatan sok tenang aja dulu mah. Masih belum boleh ambil foto sebelum disuruh ya.
Lalu dibimbinglah kita menuju ke Conference Row dimana ruangan ini biasa dijadikan tempat pertemuan perwakilan kedua negara. Biasanya Korea Selatan diwakili oleh Swiss dan Korea Utara diwakili oleh Polandia & Republik Ceko (dulu Cekoslovakia). Ruang pertemuan ini secara harfiah melewati wilayah kedua negara Korea. Meja panjang untuk melakukan pertemuan juga secara geografis terbagi menjadi dua, setengah Korea Selatan, setengah lagi Korea Utara. Jadi, kalau kita berdiri di sisi utara ruangan ini, secara fisik kita sudah berada di Korea Utara (walaupun hanya 5 langkah karena gak boleh jauh-jauh. Yeah!).
Setelah itu kita keluar ruangan dan menghadap ke Panmungak, yakni gedung milik Korea Utara. Hari itu kita kurang beruntung karena tentara Korea Utara lagi gak patroli di perbatasan kedua negara yang cuma dibatasi oleh lantai bersemen. Jadinya gak bisa dapat foto eksklusif tentara Korea Utara deh, meskipun ada satu tentara nongol dari kejauhan di Panmungak. Mungkin dia minta diperhatikan. Mungkin...
Semua pengunjung diminta untuk tidak membuat gerak tubuh yang aneh-aneh ke arah Korea Utara, seperti melambaikan tangan, menunjuk, apalagi joget-joget. Kalau kata pemandu turnya sih dikhawatirkan nanti mereka ambil foto kita dan dijadikan bahan propaganda. Lagipula meskipun daerah netral, tetap aja kita harus waspada. Siapa tau aja tiba-tiba tentara Korea Utara ngablu dan nyerang ke arah sini kan.
Bridge of No Return
Tur di Conference Row ini terbilang sangat singkat karena waktu yang diberikan memang tidak banyak. Oleh sebab itu kita meninggalkan tempat ini menuju ke Bridge of No Return (checkpoint 3), yaitu sebuah jembatan yang menghubungkan Korea Selatan dan Korea Utara dan digunakan untuk melakukan pertukaran tahanan pada gencatan senjata Perang Korea tahun 1953. Orang-orang yang sudah melewati jembatan ini tidak diperbolehkan lagi untuk kembali oleh sebab itu diberi nama Bridge of No Return. Tidak ada tentara yang berjaga di sekitar jembatan yang menjadikan wilayah ini sangat berbahaya sehingga kita hanya boleh ambil foto dari dalam bis (sedih).
Setelah dari Bridge of No Return, kita akhirnya kembali ke Camp Bonifas untuk jajan-jajan suvenir. Rata-rata sih emang berbau militer, tapi yang paling menarik perhatian adalah suvenir asli dari Korea Utara. Ada uang, perangko, hingga arak Korea Utara. Gue akhirnya memutuskan untuk beli uang kertas Korea Utara karena kayaknya susah dicari dan harga perangkonya cukup mahal.
Akhirnya sampai juga di akhir perjalanan dan kita kembali ke Seoul deh. Perjalanan sehari yang cukup melelahkan tetapi sangat berkesan. Kapan lagi bisa ke perbatasan militer (ingat, perbatasan militer beda dengan perbatasan negara pada umumnya), lihat langsung Korea Utara dan yang paling penting adalah bisa menginjakkan kaki di Korea Utara (tanpa visa) meskipun hanya 5 langkah.
Jadi, siapa yang mau merasakan sensasi ke perbatasan militer Korsel dan Korut?
Info Tur:
KTB Tour - http://www.go2korea.co.kr/en/Goods/Goods_Main.aspx?GoodsCode=1
Info Tambahan:
Tur ini bisa saja dihentikan di tengah jalan bila kondisi, secara alam maupun secara militer, tidak memungkinkan.
Oke! Itulah catatan pendek mengenai perjalanan gue di Korea Selatan yang ternyata masih di seputaran Seoul aja. Sebenarnya pengen sih mampir ke Lotte World dan Grand Park tapi rasanya kurang asik karena jalan-jalannya sendirian. Belum sempat juga ke Nami Island, Seoraksan, Busan, Suwon, Ansan, dan Jeju Island. Ya semoga aja ada kesempatan untuk mampir di kemudian hari. Aamiin.
Sampai bertemu di entry selanjutnya. Semoga informasi yang gue bagi bisa bermanfaat untuk khalayak banyak. Bahbay!
GN
220416
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Intermezzo!
Gwanghwamun PlazaJadi, di perjalanan menuju istana paling hits se-Seoul dari arah Deoksugung, mau gak mau harus melewati daerah ini, Gwanghwamun Plaza. Ada apa sih di sini? Ada dua patung tokoh terkenal seantero Korea, Admiral Yi Sunshin dan King Sejong.
Siapa sih Yi Sun-sin? Menurut wikipedia, Admiral Yi Sunshin "was a Korean naval commander, famed for his victories against the Japanese navy during the Imjin War in the Joseon Dynasty, and is well-respected for his exemplary conduct on and off the battlefield not only by Koreans, but by Japanese admirals as well." Ya kira-kira seperti itu adanya.
Kalau King Sejong itu bedanya apa dibanding raja-raja yang lainnya? Jadi, dinasti yang paling terkenal dalam sejarah Korea adalah Dinasti Joseon (cmiiw). King Sejong, raja ke-4 pada dinasti Joseon merupakan penemu huruf Hangeul yang sekarang ini menjadi huruf resmi bahasa Korea. Kalau penduduk lokal biasanya bilang, "he is a genius."
Lah ternyata di bagian belakang patung ini ada pintu rahasia menuju museum King Sejong dan Admiral Yi Sunshin di bawah tanah dan gue karena buru-buru jadi hanya bisa mampir ke museum King Sejong.
Yuhu, ternyata ada cerita menarik di balik huruf Korea ini. Salah satu suku di Sulawesi, suku Cia-Cia (Pulau Buton), menggunakan Hangeul sebagai huruf asli suku tersebut dalam tiga kategori: menulis, berbicara, dan membaca. Kenapa begitu? Katanya sih karena bahasa suku Cia-Cia lebih cocok menggunakan Hangeul. Bahkan buku pelajaran sekolahnya pakai Hangeul semua. BARU TAU!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
GyeongbokgungJalan sedikit ke arah utara dari patung King Sejong, akhirnya sampai juga di gerbang istana yang paling populer bagi turis yang datang ke Seoul.
Welcome to Gyeongbokgung!
Akhirnya sampai juga di Gerbang Gwanghwamun. Nyebrang jalan sedikit nih. Kok ramai banget ya? Ternyata eh ternyata ketika gue ke sini, masyarakat Seoul (atau mungkin se-Korsel) lagi libur karena ada pemilu. Pantesan banyak cabe-cabean lokal yang gue nyebutnya "cosplay" pakai Hanbok (pakaian tradisional Korea) cuma untuk foto-foto atau minta fotoin atau agar difoto oleh turis asing :pSetelah beli tiket masuk yang harganya 3.000 Won, gue mulai cari brosur dan liat sekeliling sebelum melangkah lebih jauh. Ternyata pengunjung juga bisa sih sewa Hanbok tapi karena gue sendirian dan udah cukup rempong dengan barang bawaan, jadinya gak ikutan tren karena lingkungan istana ini cukup (atau mungkin sangat) luas. Ku tak kuat bila harus ikut-ikutan :(
Lah malah belum cerita sedikit tentang Gyeongbokgung. Jadi, menurut brosur yang gue ambil, Gyeongbokgung dibangun pada tahun 1395 sebagai istana utama Dinasti Joseon yang baru aja terbentuk. Gyeongbokgung sendiri berarti (dalam Bahasa Inggris), "the new dynasty will be greatly blessed and prosperous." Ya kira-kira seperti itu.

Changdeokgung
Kalau boleh jujur, sebenarnya gue bahkan gak tau kalau di Seoul ada wisata sejarah seperti ini. Ketika sampai di Seoul baru deh ibu gue ngasih tau. Nah, waktu lagi liat Gyeongbokgung di Google Maps, ternyata ada istana lain di sebelah timur istana ini. Oleh sebab itu setelah dari Gyeongbokgung, dengan langkah gontai karena lelah jalan, gue teruskan perjalanan menuju Changdeokgung yang ternyata masuk Warisan Dunia. Mantap.
Sebelum masuk, jangan lupa beli tiket seharga 3.000 terlebih dahulu ya gan supaya gak malu seperti orang di depan gue yang kicep karena belum beli tiket tapi sudah mau masuk ke dalam pelataran istana.
Mantap nih akhirnya gue masuk juga ke Changdeokgung. Cek brosur dulu gan bentar. Jadi, Changdeokgung dibangun tahun 1405 sebagai istana kedua di era Dinasti Joseon dan sempat hancur lebur ketika Jepang menyerang (hobi banget ngancurin bangunan dah), tetapi dibangun lagi tahun 1610. Changdeokgung bahkan sempat jadi istana utama ketika Gyeongbokgung juga rusak.
Sama seperti istana-istana lainnya, Changdeokgung berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan, tempat menjamu tamu-tamu, tempat pertemuan, dan lainnya sebagaimana sebuah pemerintahan berjalan.
Di bagian belakang istana ini sebenarnya ada Secret Garden, dimana di sana ada bangunan-bangunan dan tempat santai keluarga kerajaan yang sebenarnya bisa dikunjungi hanya dengan nambah bayar 5.000 Won. Tetapi ketika gue ke sana, waktu berkunjung ke taman rahasia tersebut sudah habis untuk hari itu jadinya gak mampir deh.
Changgyeonggung
Di sebelah pintu masuk taman rahasia, ternyata ada pintu masuk ke istana lainnya, yakni Changgyeonggung. Gak apa-apa lah merogoh kocek lagi, tepatnya 1.000 Won. Kentang gan daripada puter balik, jadi ya cus masuk aja lah. Mungkin ajak bisa ketemu Yoona atau Yuri atau Seohyun :(

Jadi, masih menurut brosur, Changgyeonggung merupakan istana ketiga yang dibangun pada Dinasti Joseon setelah Gyeongbokgung dan Changdeokgung. Banyak raja pada dinasti ini lebih memilih Changdeokgung sebagai tempat tinggal, sehingga Raja Seongjong membangun Changgyeonggung tepat di sebelah Changdeokgung agar lebih mudah melayani ratu.



Nah, katanya sih Changgyeonggung dibangun bukan untuk tempat pemerintahan, namun lebih ke komplek perumahan. Pantesan enak banget dibuat jalan-jalan sore bareng keluarga, teman, pacar, atau sendirian juga gak apa-apa.



Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang berhubungan dengan kerajaan yang bisa disambangi tapi capek bro. Jadi, ya alhamdulillah paling enggak bisa mampir ke tempat-tempat hits untuk wisata sejarah di Seoul.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
- JSA & DMZ Tour -
Wisata spesial selanjutnya terletak di luar Seoul. Untuk wisata yang satu ini benar-benar spesial. Kenapa spesial? Karena wisata ini gak bisa dilakukan lewat jalur pribadi, harus lewat jalur tur. Gue merasa super beruntung bisa ikut tur tersebut. Kenapa beruntung? Oke, gue jabarin nih.1. Tur ini tidak setiap saat ada. Untuk bulan April 2016 aja, tur-nya hanya ada SEKALI.
2. Dibutuhkan waktu paling telat H-4 sebelum tur berlangsung untuk daftar dan kirim soft copy paspor untuk verifikasi.
3. Harus selalu bawa paspor ketika tur berlangsung.
4. Tidak boleh memakai sembarang pakaian selama tur berlangsung. Detailnya akan dijelaskan oleh penyelenggara tur (hehehe).
5. Bila sudah berada di tujuan utama tur ini, hanya boleh bawa dompet, kamera, dan paspor. Selain itu, seluruh barang bawaan harus ditinggal di dalam bis.
Mantap gak? Jadi, wisata apakah itu? Wisata ke daerah perbatasan militer Korea Selatan dan Korea Utara. Yup, KOREA UTARA.
Kenapa gue ngebet banget ingin ke Korea Utara? Kurang tau juga sih. Bisa jadi karena gue lulusan Hubungan Internasional. Bisa jadi karena teman gue ada yang mirip banget mukanya kayak Kim Jong-Un. Yang jelas, penasaran dengan yang namanya Korea Utara. Oiya, sebelumnya gue baca blog ini http://thriftynomads.com/visiting-north-koreas-dmz-border-a-how-to-guide/ untuk menambah informasi mengenai cara ikutan tur ke JSA & DMZ.
Catatan: Paket tur yang gue ikuti tidak termasuk mampir ke terowongan (3rd Tunnel) yang digali diam-diam oleh Korea Utara. Untung ke-gep sama Korea Selatan. Kalau tidak, habis sudah mereka diserang secara tiba-tiba.
The War Memorial of Korea
Sebelum ke perbatasan, kita menuju The War Memorial of Korea untuk belajar sedikit (atau banyak tergantung fokusnya) tentang sejarah terjadinya perang antara Korea Selatan dan Korea Utara (Korean War). Lokasinya masih di Seoul kok, deket Itaewon.
Kalau disimpulkan kira-kira begini (tolong dikoreksi bila ada kesalahan):
Di tahun 1945 setelah Perang Dunia II selesai, Korea senang sekali karena penjajahan Jepang selama 35 tahun telah selesai (pantes banyak orang Korea yang benci Jepang). Namun karena keserakahan dua negara yang menjadi poros ideologi pada saat itu, dengan seenak udelnya membelah Korea menjadi dua; utara di bawah komando Uni Soviet dan selatan di bawah komando Amerika Serikat. Tadinya rakyat Korea tidak setuju dan mau bikin pemilu untuk menentukan siapa yang jadi kepala negaranya sehingga jadi negara independen, tetapi akhirnya hanya Korea bagian selatan yang bikin pemilu karena Korea bagian utara tidak setuju. Kemudian terbentuklah negara Korea Selatan yang beberapa hari setelahnya disusul dengan terbentuknya negara Korea Utara.
Di tahun 1950, Korea Utara, dengan bantuan China (yang hari ini khusus di Indonesia diganti menjadi Tiongkok), menyerang Korea Selatan yang pada saat itu tidak memiliki armada angkatan bersenjata. Hanya dalam hitungan hari, Seoul sudah dikuasai oleh Korea Utara dan pasukan Korea Selatan dipukul mundur hingga daerah Pusan (sekarang Busan). Lalu seperti yang sudah-sudah, Amerika Serikat muncul sebagai pahlawan dengan memberikan bantuan setelah melakukan serangan lewat pelabuhan Incheon yang waktu tempuhnya hanya sekitar 30 menit naik mobil ke Seoul. Akhirnya Korea Utara balik tertekan hingga dekat perbatasan China. Supaya gak panjang-panjang, akhirnya perang ini berhenti setelah United Nations / PBB terlibat, sehingga di tahun 1953 terjadilah kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata yang berlanjut hingga hari ini dan menghentikan Perang Korea (walaupun hanya sementara).
Nah, sudah dapat gambaran tentang Perang Korea kan? Untuk lebih lengkapnya, bisa cari tau sendiri ya.
Balik lagi ke Museum Perang Korea. Di halaman depan museum, kita bisa melihat monumen perang dan di sisi timur museum ada semacam tempat eksibisi senjata dan kendaraan tempur ketika Perang Korea terjadi. Lumayan bisa buat foto-foto.
Lanjut lah kita ke dalam museum. Salut sih sama Korsel yang bikin museum seperti ini. Modern, aman, nyaman, dikemas menarik dan edukatif. Yang paling penting adalah GRATIS. Yup, GRATIS. Museum benar-benar jadi tempat wisata yang cocok untuk semua umur. Gue mendadak merasa pinter setelah main ke sini.
Imjingak Park
Setelah belajar sedikit sejarah tentang Perang Korea, kita melanjutkan perjalanan ke kota Paju, tepatnya ke Imjingak Park. Makan siang sebentar setelah itu eksplorasi sendiri-sendiri. Jadi, Imjingak Park adalah sebuah taman yang menjadi wilayah terjauh menuju Korea Utara bagi rakyat sipil. Di sini ada Bridge of Freedom dimana kita juga bisa lihat jembatan rel kereta yang menghubungkan Korea Utara dan Korea Selatan. Jembatan ini diharapkan bisa dipakai ketika suatu hari nanti Korea bersatu. Bahkan tagline kota Paju di perbatasan berbunyi, "Paju City is preparing for unification." Wew.
Penjelasan singkat mengenai perbatasan militer Korea Selatan dan Korea Utara:
Jadi, semenjak gencatan senjata di tahun 1953, disepakati bahwa kedua negara harus "merelakan" sedikit wilayah mereka untuk dijadikan wilayah netral yang lebih dikenal dengan sebutan DMZ. Nah, dari garis perbatasan kedua negara atau Military Demarcation Line (MDL), ditariklah garis sepanjang 2 KM tiap negara. Total 4 KM wilayah tersebut dikenal dengan DMZ.

Camp Bonifas
Sampailah kita ke checkpoint pertama, yakni Camp Bonifas. Nama tempat ini diambil dari nama Kapten Arthur Bonifas yang terbunuh dalam insiden "chopping tree" tahun 1976. Di sini tetap gak boleh foto-foto sembarangan, tapi kalau mau liat seperti apa penampakan di Camp Bonifas, tinggal googling aja. Di Camp Bonifas, kita dikasih penjelasan singkat mengenai Perang Korea (lagi), DMZ dan apa yang terjadi di wilayah ini. Singkat cerita, di wilayah DMZ kedua negara ternyata dibangun sebuah desa. Di kedua desa ini berdiri tiang bendera yang tinggi banget, 98 M di Daesong-dong Village (Korea Selatan) dan 160 M di Kijong-dong Village (Korea Utara) yang sering disebut dengan "Propaganda Village" oleh orang-orang Korsel karena desa ini gak ada penghuninya bahkan banyak bangunan yang belum selesai dibangun.
Setelah briefing singkat, kita lanjut ke Joint Security Area dengan menaiki bis militer. Asik sekali nak. Oiya, oppa tentara ganteng kebetulan di bis yang gue tumpangi loh. Sayang banget gak boleh ambil foto mukanya padahal cewek-cewek bisa meleleh kalau liat level kegantengannya dia yang ternyata 100x lebih ganteng dari gue :(
Joint Security Area (JSA)
Akhirnya sampai juga di checkpoint 2 yakni Joint Security Area yang terletak di MDL kedua negara. Wilayah ini berada di bawah pengawasan Persatuan Bangsa-Bangsa jadi meskipun deg-degan, keliatan sok tenang aja dulu mah. Masih belum boleh ambil foto sebelum disuruh ya.
Lalu dibimbinglah kita menuju ke Conference Row dimana ruangan ini biasa dijadikan tempat pertemuan perwakilan kedua negara. Biasanya Korea Selatan diwakili oleh Swiss dan Korea Utara diwakili oleh Polandia & Republik Ceko (dulu Cekoslovakia). Ruang pertemuan ini secara harfiah melewati wilayah kedua negara Korea. Meja panjang untuk melakukan pertemuan juga secara geografis terbagi menjadi dua, setengah Korea Selatan, setengah lagi Korea Utara. Jadi, kalau kita berdiri di sisi utara ruangan ini, secara fisik kita sudah berada di Korea Utara (walaupun hanya 5 langkah karena gak boleh jauh-jauh. Yeah!).
Setelah itu kita keluar ruangan dan menghadap ke Panmungak, yakni gedung milik Korea Utara. Hari itu kita kurang beruntung karena tentara Korea Utara lagi gak patroli di perbatasan kedua negara yang cuma dibatasi oleh lantai bersemen. Jadinya gak bisa dapat foto eksklusif tentara Korea Utara deh, meskipun ada satu tentara nongol dari kejauhan di Panmungak. Mungkin dia minta diperhatikan. Mungkin...
Semua pengunjung diminta untuk tidak membuat gerak tubuh yang aneh-aneh ke arah Korea Utara, seperti melambaikan tangan, menunjuk, apalagi joget-joget. Kalau kata pemandu turnya sih dikhawatirkan nanti mereka ambil foto kita dan dijadikan bahan propaganda. Lagipula meskipun daerah netral, tetap aja kita harus waspada. Siapa tau aja tiba-tiba tentara Korea Utara ngablu dan nyerang ke arah sini kan.
Bridge of No Return
Tur di Conference Row ini terbilang sangat singkat karena waktu yang diberikan memang tidak banyak. Oleh sebab itu kita meninggalkan tempat ini menuju ke Bridge of No Return (checkpoint 3), yaitu sebuah jembatan yang menghubungkan Korea Selatan dan Korea Utara dan digunakan untuk melakukan pertukaran tahanan pada gencatan senjata Perang Korea tahun 1953. Orang-orang yang sudah melewati jembatan ini tidak diperbolehkan lagi untuk kembali oleh sebab itu diberi nama Bridge of No Return. Tidak ada tentara yang berjaga di sekitar jembatan yang menjadikan wilayah ini sangat berbahaya sehingga kita hanya boleh ambil foto dari dalam bis (sedih).
Setelah dari Bridge of No Return, kita akhirnya kembali ke Camp Bonifas untuk jajan-jajan suvenir. Rata-rata sih emang berbau militer, tapi yang paling menarik perhatian adalah suvenir asli dari Korea Utara. Ada uang, perangko, hingga arak Korea Utara. Gue akhirnya memutuskan untuk beli uang kertas Korea Utara karena kayaknya susah dicari dan harga perangkonya cukup mahal.
Akhirnya sampai juga di akhir perjalanan dan kita kembali ke Seoul deh. Perjalanan sehari yang cukup melelahkan tetapi sangat berkesan. Kapan lagi bisa ke perbatasan militer (ingat, perbatasan militer beda dengan perbatasan negara pada umumnya), lihat langsung Korea Utara dan yang paling penting adalah bisa menginjakkan kaki di Korea Utara (tanpa visa) meskipun hanya 5 langkah.
Jadi, siapa yang mau merasakan sensasi ke perbatasan militer Korsel dan Korut?
Info Tur:
KTB Tour - http://www.go2korea.co.kr/en/Goods/Goods_Main.aspx?GoodsCode=1
Info Tambahan:
Tur ini bisa saja dihentikan di tengah jalan bila kondisi, secara alam maupun secara militer, tidak memungkinkan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oke! Itulah catatan pendek mengenai perjalanan gue di Korea Selatan yang ternyata masih di seputaran Seoul aja. Sebenarnya pengen sih mampir ke Lotte World dan Grand Park tapi rasanya kurang asik karena jalan-jalannya sendirian. Belum sempat juga ke Nami Island, Seoraksan, Busan, Suwon, Ansan, dan Jeju Island. Ya semoga aja ada kesempatan untuk mampir di kemudian hari. Aamiin.
Sampai bertemu di entry selanjutnya. Semoga informasi yang gue bagi bisa bermanfaat untuk khalayak banyak. Bahbay!
GN
220416
Good article kak! Thanks kak udah sharing pengalaman tentang travelling in Korea terutama paling suka dan penasaran banget pas bagian tur di DMZ-nya. Semoga someday bisa berkesempatan kesana juga.
ReplyDelete