Hai, Halo, Hola, Oi, Ey, Uy....
Duh, berhubung seharusnya gue bikin slide untuk sidang proposal skripsi kamis besok tapi kena distraksi dari internet yang benar-benar adiktif seperti dirimu, gue akan coba ceritain pengalaman gue jalan-jalan ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, yakni Pulau Cipir dan Pulau Onrust.
Dipikir-pikir, udah hampir sebulan yang lalu gue melakukan perjalanan ini. Berawal dari ajakan iseng salah satu ketua Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus, yakni UKM pecinta alam, Khatulistiwa, yang bernama Arifyuddin Azis atau yang biasa dipanggil Ayyub, akhirnya gue memutuskan untuk ikut perjalanan ini. Itung-itung refreshing sebelum UTS lah.
Tepat pada tanggal 9 Maret 2014, gue berusaha keras untuk bangun sepagi mungkin karena KATANYA sih kita akan berangkat pukul ENAM PAGI dari kampus. Yaudah gue bangun dah tuh jam 4. Mandi *brrr dingin* dan shalat subuh dulu ya guys. Abis itu siapin apapun itu yang akan dibawa. Waktu gue terbuang cukup lama untuk mencari tas bepergian *punya adek gue* yang biasa gue pake kalo jalan-jalan dan juga kegalauan gue untuk memakai kolor yang mana *ups ketauan*. Setelah itu, bikin Rosalinda "panas" sembari pakai sepatu dan nyisir. Oiya Rosalinda tuh motor gue yak dan "quw cyank ma dya bungudh".
Jam setengah enam pagi, langsung cabut dari rumah. Brum, brum...Jakarta lancar cuuuuy. Biasanya ke kampus bisa satu jam, hari ini hanya 20 menit *ngebut dikit*.
Jam enam kurang 10 sampai kampus deh. Menyapa teman-teman yang udah ada di sana, Idat dan Rane. Yaudah nungguin yang lain sekalian. Eh namanya juga mahasiswa. Bilang jam enam berangkat, gataunya jam setengah delapan baru cao wkwkwk TULOOOOOOO. Ya sembari nunggu, kita coba tongsis KW kepunyaaan mas Arif dulu deh.
Ya untuk detail, mager banget nulisnya sumpah haha. Intinya, kita naik metromini menuju Muara apaan ya gue lupa. Ya pokoknya ke arah Cengkareng deh.
(Idat hobinya narsis yak)
(ini nih mas Arif, ketua HIMAHI 2013)
(lah owner LaTanSa Pulsa, Miftah, gak mau kalah. Eh, ada Echa ikutan narsis hihihi)
(ah kalau ini emang najis maksimal)
Ternyata kita diturunin di Gelanggang Olah Raga Angke *ya kalo ga salah, lupa cuy* setelah itu jalan menuju kapal yang sudah disediakan. Tapi sebelumnya, narsis lagi aaaah. Mumpung ada kamera yang bisa dipakai.
(galang, idat, miftah, rane, adit)
Eh pagi-pagi pasar ikan udah rame banget loh *yaiyalah*. Nih liat sendiri keadaannya...
(menuju kapal, lewati pasar *edisi ninja hattori*)
Yuhuuuu. Akhirnya sampai juga di dermaga yang sebenernya gatau bisa dibilang dermaga atau engga. Tergantung persepsinya hahaha. Ngomong-ngomong, gile bener airnya. Pekat banget bru. Pekatnya air di sana mengalahkan hitamnya kopi yang diminum sama Aryo Bayu di iklan kopi yang tagline-nya "suka yang hitam juga ya" *hitam? apanya yang hitam? ambigu*
(para pencari suaka *loh kok suaka?*)
(lon alon asal klakon)
(ready, steady, go)
Hooplaaaaa. Akhirnya kita berangkat menuju pulau pertama, Pulau Cipir. Penulis ga bawa kamera karena dari tadi foto yang gue pajang adalah hasil jepretan kamera Idat dan Miftah *BARU NGAKU*. Cerita dikit ya. Gue beda kapal sama Miftah tapi satu kapal sama Idat tapi Idat gak foto-foto selama perjalanan. Di kapal yang gue naikin juga ikut LULUSAN TERBAIK PARAMADINA 2013, Sahuri Mulia Hakim *zaik*. Tapi entah kenapa sepanjang perjalanan, bapak Sahuri ini mabok laut wkwkwk sabar ya om.
Akhirnya sampai juga kita di Pulau Cipir...
(ini kenapa fotonya ga bisa diputer? yasudahlah)
Pulau Cipir ini tadinya tempat karantina calon Haji pada masa kolonial. Mereka sengaja dilatih untuk tahan fisik dan mental sebelum mengarungi samudera menuju Tanah Suci. Jadi, di pulau ini banyak banget sisa-sisa bangunan karantina.
(niatnya sih mau foto kaya di film-film India, tapi yasudahlah)
Selain itu, Pulau Cipir juga digunakan sebagai salah satu benteng. Ya macem frontliner sebelum musuh memasuki Jakarta lah. Nih oleh-olehnya...
(Mmmm...besar dan panjang ya *meriamnya*)
(Narsis sih, tapi gak ngerti lagi deh maksudnya Miftah apaan)
(Seriusan, yang paling cantik cuma Ayas)
(Belakang: Murni, Faiq, Rane. Depan: Galang, Cia, Adit, Miftah)
Setelah capek di Pulau Cipir, kita lanjut perjalanan kita ke Pulau Onrust. Jaraknya sekitar Pancoran-Kuningan lah *sotoy maksimal*. Gak begitu jauh *dusta*, tapi kalo berenang ya capek juga bru.
(Welkommen)
Nah sejarahnya Pulau Onrust juga ga jauh-jauh amat dari Pulau Cipir. Di sini juga ada bangunan untuk asrama haji, tapi fungsi lain Pulau Onrust adalah sebagai tempat karantina para penderita penyakit kencing tikus *kalau gak salah*, ditandakan dengan adanya sisa bangunan rumah sakit yang cukup besar di tengah-tengah pulau. Ini nih penampakan Pulau Onrust yang diambil dari Museum Onrust.
Katanya sih Pulau Onrust sudah beberapa kali mengalami perubahan, baik dari bentuk pulau hingga tata pulau-nya sendiri. Hal ini dikarenakan Pulau Onrust pernah terkena tsunami ketika Gunung Krakatau meletus di akhir tahun 1800-an yang katanya abu vulkaniknya sampai ke Rusia. Allahu Akbar.
Nah di Pulau Onrust juga terdapat makam keluarga Belanda. Kayanya yang dulu jadi mandor di pulau ini deh. Kuburan untuk para kompeni dan pribumi dipisah ya. Yang kompleks pemakamannya bagus, sudah tentu punya para kompeni.
(Salah satu makam kompeni)
Oopsie Daisy...Pulau Onrust juga merupakan tempat istirahat terakhir bagi salah satu pimpinan DI/TII loh, yakni S.M. Kartosuwiryo. Beliau ditangkap dan dihukum mati di pulau ini. Serem dikit lah. Yang gak tau DI/TII itu apa, silahkan buka kembali buku sejarah kalian waktu SMP dulu. Penulis juga lupa-lupa inget sih hahaha maklum manusia, penuh dengan salah.
(Makam Kartosuwiryo)
(Narsis dikit bareng mantan Sekjen SEMA boleh yak. Sahuri ngapain tau nongol di belakang)
Setelah muter-muter pulau, baru terasa deh capeknya. Gak biasa ngebolang, disuruh ngebolang. Ya gempor qaqaq. Setelah shalat Dzuhur, sembari melepas lelah, kita duduk-duduk dulu lah. Entah kerasukan apa, ini anak-anak kok malah narsis ya. Mungkin "The Sunglasses Effect" telah merasuki mereka semua. Sumpah, yang cantik cuma Nabila.
(Belakang: Faiq, Thio, Galang, Adit, Agung. Depan: Aqsal, Nabila, Idat, Miftah)
Nah sebenarnya setelah ini kita akan mampir ke Pulau Kelor yang sisa bangunan bentengnya masih jelas keliatan. Tapi apa daya, kata mas-mas pemandu bakat eh pemandu tur, ombak di sekitar Pulau Kelor sangat ajib dan menggelegar serta membahana sehingga kita tidak bisa merapat. Lain kali aja kali yak. Ya paling engga, bisa liat dari jauh.
(Pulau Kelor)
Duh, ternyata hari sudah mulai sore *padahal baru jam 2-an*, dan kita pun harus kembali ke Jakarta yang penuh dengan asap kendaraan. Nah bodohnya adalah kita lupa foto-foto perjalanan pulang. Ada sih versi video 3gp-nya tapi tidak untuk di share ya guys *apaan tau*. Meskipun perjalanan ini terbilang cukup singkat, tapi penulis merasa sangat senang karena bisa kumpul bareng dan lebih akrab dengan anak-anak kampus yang biasanya cuma tau muka doang *maklum kampus kita super luas*.
Kita pun kembali ke dermaga lalu jalan kaki lagi menuju GOR sembari menunggu jemputan kita. Selagi menunggu, beli batagor dan es kelapa muda. Badan udah kelewat bau banget sumpah. Gue sih kasian sama cewe yang duduk di samping gue waktu perjalanan pulang ke kampus wkwkwk maaf ya mbak, lain kali saya akan bawa parfum yang lebih wangi.
Nah ketika perjalanan pulang, ada cerita lagi nih. Si supir metro yang gue tumpangi rada sekip malah masuk jalan tol menuju bandara trus belok ke arah JORR wkwkwk sampis. Udah bayar tol 2x eh baru sadar terus puter arah dan bayar tol lagi. Bangkrut dikit ya Yub, sabar Yub. Akhirnya jam setengah lima tiba di kampus tercinta, yang katanya "Small but Giant". CIHUUUUY....
Istirahat bentar, cuci-cuci, duduk-duduk, lalu pulang deh bersama Rosalinda tercinta muah muah. Bye-bye Cipir dan Onrust, semoga saya bisa mengunjungi kalian lagi. Terima kasih Khatulistiwa. Ditunggu perjalanan seru berikutnya.
Regards,
G.N.
P.S. Terima kasih Idat dan Miftah atas foto-fotonya.
Aftermath:
(Gak relevan sih, tapi ini foto wajib masuk blog ini hahaha sori Yong Fu)
No comments:
Post a Comment