Berawal dari hari yang super gerah, entah tanggal berapa, seperti biasanya gue nyalain komputer rumah. Buka facebook dengan tujuan untuk kepo dengan kawan-kawan lama di seberang lautan sana, tak sengaja lewat depan rumahmu ku melihat ada tenda biru *loh kok tenda biru*. Maksudnya, tak sengaja melihat teman fb mem-posting berita yang berjudul...
Tak Simpatik dengan Ibu Hamil di KRL, Perempuan di Path Dikecam
Duh kok ngeri sekali judulnya. Oiya, untuk berita lebih lengkapnya, ke sini aja ---> Sumber Masalah
Inti dari berita tersebut adalah curhatan seorang perempuan yang kesel sama ibu hamil yang seenaknya minta tempat duduk padahal saat itu KRL penuh sesak dan si mbak ini mungkin capek berdiri atau gimana saya juga gatau karena saya ga di TKP bru, saya di rumah lagi mikirin masa depan *mikir terus*
Duh Lang, gausah muter-muter deh, langsung ke inti pembahasan aja. Iya, iya, siap bru, siap *kok jadi ngobrol sendiri*.
Jadi yang mengganjal di kepala gue adalah....apakah masyarakat sudah banyak berubah ya? Gue sih bersyukur kepada Allah SWT karena telah dilahirkan di lingkungan keluarga yang memang sejak gue kecil, gue dan kakak dan adik gue udah diajarin etika sama ayah dan ibu, ya walaupun kadang khilaf juga hahaha. Nah kembali ke pokok pembahasan. Pendapat pribadi gue mengapa si mbak ataupun orang lain bisa berbuat seperti itu adalah karena kurangnya pemahaman tentang kewajiban pengguna transportasi umum. Kita harus bisa membedakan mana hak dan kewajiban kita loh. Ya setidaknya ini yang gue perhatikan berdasarkan pengalaman gue yang dulu pernah tinggal di negara orang selama kurang lebih tiga tahun.
Jadi, bagi yang belum tau, gue termasuk orang yang cukup beruntung karena bisa merasakan tinggal di Toronto selama tiga tahun untuk menyelesaikan pendidikan SMA *terima kasih, Ibu*. Nah Toronto yang terletak di Kanada memiliki sistem transportasi yang jauh lebih maju dibandingkan yang ada di Jakarta. Jadi, disini gue akan mencoba membandingkan kedua hal tersebut dari sudut pandang etika sebagai pengguna transportasi umum.
Di Toronto, sistem transportasi dimonopoli oleh satu perusahaan, Toronto Transit Commission (TTC). Moda transportasi yang paling digemari tidak lain adalah subway, diikuti oleh bus dan street car *semacam trem*.
(Street Car)
(Bus)
(Kereta Bawah Tanah)
(Penampakan Dalam Kereta)
Nah, dari segi bentuk dan kinerja, transportasi umum di atas sangat jauh lebih bagus daripada yang ada di Jakarta, namun tetap ada satu persamaannya. Nah ini nih persamaannya....
(Di Toronto)
(Di Jakarta)
Yak betul. Di setiap moda transportasi umum, biasanya dipasang tanda-tanda seperti di atas. Bagi yang belum tau artinya, tanda tersebut merupakan tanda prioritas pemberian tempat duduk (seating priority) yang seharusnya menjadi kewajiban para pengguna transportasi umum untuk menaati peraturan tersebut. Nah peraturan yang paling sering tertera biasanya adalah prioritas pemberian tempat duduk kepada 1) orang lanjut usia, 2) penyandang cacat, dan 3) wanita hamil. Nah ketiga jenis penumpang inilah yang idealnya wajib untuk didahulukan untuk duduk di tempat duduk.
Tapi permasalahannya, menurut pengamatan gue, masih banyak tuh yang kurang ngerti dengan peraturan tersebut. Masyarakat juga sudah menjadi lebih individualis, kurang peka terhadap hal-hal seperti itu. Ngeri bru untuk ke depannya. Nilai-nilai ke-timur-an kita bisa hilang begitu saja *cekacekaceka*
Pengamatan gue juga mengatakan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki pemikiran bahwa "perempuan harus diutamakan" atau kalo di bahasa Inggris-kan menjadi "ladies first". Oh no way Jose, karena menurut gue untuk apa ada gembar-gembor "emansipasi wanita" bila untuk hal seperti ini saja, wanita masih dimanja *wanita yang gue maksud adalah wanita belum masuk kategori lansia yang masih sehat dan kuat ya*.
Jadi, kalo ditanya "Nah Lang, kalo lo gimana? Apakah akan ngasih tempat duduk lo demi seorang wanita yang masih bugar?" gue akan jawab "engga". Kenapa? Karena gue yakin masih banyak orang yang lebih membutuhkan tempat duduk tersebut dibandingkan orang ini *ceritanya*. Gue sempet diskusi sama temen gue tentang hal ini dan pendapat dia sama persis dengan apa yang gue pikirkan. "Kita duduk karena nanti akan ada orang yang lebih membutuhkan sehingga gue siap untuk memberikan tempat duduk gue karena orang lain belum tentu melakukan hal tersebut." Wow, frontal sekali ya jawabannya. Memang terdengar sombong sih tapi gue setuju. Coba bayangin, suatu hari nanti *Insya Allah* kita akan menjadi tua dan mungkin pada saat itu kita sedang naik transportasi umum dan tidak ada seorang pun yang memberikan tempat duduknya pada kita padahal kita sudah lelah untuk berdiri. Kita juga harus membayangkan menjadi orang yang disabled dan tentunya Insya Allah kita para cowok akan memiliki istri yang nantinya akan hamil dan para wanita juga Insya Allah akan diberikan kehamilan jadi ya tau sama tau aja deh rasanya gimana menghadapi orang hamil yang usia kandungannya udah 6-9 bulan.
Kesimpulannya, terlepas dari apapun alasan si mbak yang ada di headline berita di atas, memang seharusnya si ibu hamil tersebut mendapatkan haknya sebagai pengguna transportasi umum. Tapi berhubung peraturan tersebut tidak mengikat, jadi yang gak bisa disalahin juga kalau masih ada oknum-oknum yang masa bodoh dengan hal tersebut. Akan lebih baik bila kita kembali menumbuhkan rasa toleransi kita kepada individu lain. Selain itu, tolong baca setiap peraturan yang ada di tempat umum karena "kebebasan setiap individu akan dibatasi ketika berbenturan dengan hak orang lain." Jadi, ya tolong dicerna sendiri yak *kaya ada yang baca aja* wkwkwk
Udah ah capek. Lagi ngetik pake laptop orang nih. Ntar #marah nih orangnya lagi di samping gue dengan tatapan tajam mencari cowok wkwkwkwk. For you single guys, you wanna meet her? Hubungi aku ya....
Sekali lagi, apa yang gue tulis adalah murni dari pemikiran saya jadi anda tidak wajib untuk mengikutinya. Kalau mau #marah, ya marah-marah aja sendiri jangan ngajak-ngajak gue. #marah kan gue
Ilmu datang dari buku...
Moral datang dari hati nurani...
Regards,
GN
220414
No comments:
Post a Comment