Translate

Tuesday, 29 April 2014

Seorang Anak Kecil Yang Malang - Edisi Bekeri

Hola Amigos! Muchacos! Lagi iseng-iseng bukan FB eh ternyata dulu gue pernah nulis notes gitu dan ternyata isinya hmmmm cocok untuk sekali lagi gue sebarkan ke dunia maya *zaik*. Jadi, cerita kali ini bisa dibilang remake dari cerita yang lama.

Mengingat saya orang Indonesia, saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (sok asik). Dikarenakan bahasa yang saya gunakan masih bisa dibilang belum tenar, maka akan saya jelaskan. Bekeri itu = ehem, BERAnaK (baca huruf besarnya saja) hehe..

OK, begini ceritanya..

Saya rasa kejadian ini sudah terjadi sekitar 12 tahun yang lalu tepatnya ketika saya masih duduk di kelas 5 SD. Ketika itu saya seperti biasanya pulang naik jemputan Alm. Om Slamet dengan teman-teman saya. Setelah membeli jajanan untuk dinikmati sewaktu perjalanan pulang, maka berangkatlah kami dengan kendaraan "mewah" yang dimiliki Alm. Om Slamet ini, mobil putih (setara minibus tapi kecilan dikit) dengan catnya yang sudah pudar dan karatan. Kendaraan ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas berupa 6 kursi panjang dan AC (Angin Cepoy). Mobil ini juga termasuk kendaraan yang cepat, bisa lebih cepat dari bajaj.

Jadi siang itu kami berada di jalan Radin Inten menuju rumah Pramudita di daerah Buaran Regency (depan Universitas Dharma Persada). Saya yang sedang duduk menghadap jendela mobil sambil menikmati tiupan angin yang sejuk siang itu tiba-tiba terkejut dengan sebuah pemandangan yang tidak biasa untuk disaksikan oleh anak SD ketika mobil jemputan kami berhenti dikarenakan lampu lalu lintas.

(Ilustrasi Semata, Seidung, Semulut)

Di seberang jalan, di dalam kawasan Kebun Botani yang dimiliki oleh UNJ, saya menyaksikan seorang anak kecil sedang "bekeri" (langsung to the point). Saya tegaskan sekali lagi, BEKERI, di atas kali kecil yang berada disana. 

Pada awalnya saya speechless dan tidak tahu harus berkata apa. Tanpa sadar saya memanggil teman saya, Ardi dan Hamdan, dan memberitahu mereka akan hal itu. Sekitar 10 detik lamanya kami memandangi anak itu, dan tanpa diduga si Hamdan berteriak, "Hahahaha...ada yang 'bekeri'" dengan kencangnya sembari menunjuk ke arah anak itu. Keadaan jalan waktu itu terbilang sepi maka alhasil anak kecil itu dapat mendengar teriakan Hamdan. Setelah sadar bahwa aktifitasnya diketahui oleh kami, anak kecil itu langsung berdiri dan berlari sekuat tenaga tanpa menyelesaikan "bisnis" yang dia lakukan saat itu. Dalam hati saya merasa kasihan terhadap anak itu, tapi ada daya saya tetap tidak bisa untuk tidak tertawa. Betapa malangnya nasib anak itu. Mungkin hari ini dia sudah berada di bangku SMA. Saya sih berharap kalau dia sudah bisa melupakan hal tersebut.

Sekian aja..
Maap maap aja klo gak lucu, cuma pengen sharing pengalaman pribadi aja..
Tengkyu for watching..

(#MARAH)

Every child is an artist...
The problem is how to remain an artist once he grows up...
(Pablo Picasso)


Regards, 

GN
200309 - 290414

No comments:

Post a Comment